Milad Ke-10 Ponpes Daarul Ma’arif Bersama Wamenag RI, Drs. H Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si

by -

Wamenag RI Drs. H. Zainut Tauhid, M.Si dan Pimpinan Ponpes Daarul Ma’arif, Dr. KH. Kusoy Fadiliyah, M.Si. memotong tumpeng saat Milad ke-10 Ponpes Daarul Ma’arif. [Foto : A Zaeni)

Laporan : Aen Zaeni

Suara rebana yang mendayu-dayu ditabuh sejumlah santri dengan lantunan shalawat yang begitu merdu menyambut kedatangan Wamenag RI, Drs. H Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si, ke Pondok Pesantren Daarul Ma’arif Ciwahangan Imbanagara Kabupaten Ciamis yang tengah melaksanakan Milad ke-10 Ponpes (29/8). Wamenag tiba sekira pukul 21.00 didampingi Direktur Bina KUA, Dr. H. Muharram Marzuki, Direktur KSKK, Dr. H. A. Umar, Kakanwil Jabar, Dr. H. Adib, M.Ag. Dan rombongan.

Sebelumnya Wamenag RI melakukan perjalanan dinas dari Jakarta menuju Kota Subang melihat persiapan pembangunan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN-IC). Dalam kunjungan kerjanya di Subang disambut Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi.

”Insya Allah Kemetrian Agama akan membangun MAN IC serta persiapan embarkasi Kertajati di Subang ” ungkap H Zainut Tauhid.

Selanutnya menghadiri penandatanganan MoU JQH dan Kanwil Jabar di Purwakarta, lalu meresmikan Balai Nikah dan Manasik Haji KUA Kecamatan Garawangi dan Kecamatan Darma di Kabupaten Kuningan.

Rombongan tiba di Ponpes Daarul Ma’arif pada pukul 21.00. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan ini, menurut Wamenag, terobati ketika melihat anak-anak santri yang tengah tolabul ‘ilmi di pondok pesantren Daarul Ma’arif yang sejuk ini. ”Rasanya kelelahan saya sirna, badan terasa segar dan tentu semangat berdiri disini untuk berdialog dengan anak-anak santri,” katanya.

Jasa Besar Kiyai dan Santri

Bagi saya, lanjut Wamenag, ketika masuk di lokasi pesantren, ibarat ikan menemukan air. Apalagi saat ini suasananya cukup spesial karena Ponpes ini tengah memperingati Milad ke-10 Ponpes Daarul Ma’arif. Kalian berada di tempat yang tepat untuk mendidik, mendewasakan diri dan belajar, karena Ponpes telah mampu membuktikan berhasil mencetak kader-kader anak bangsa, tokoh-tokoh nasional di negeri ini.

Menurut Wamenag, Indonesia merdeka –diperingati setiap tanggal 17 Agustus– tidak lepas dari peran serta pondok pesantren, kiyai dan para santrinya. Republik ini bisa merdeka karena jasa besar kiyai dan santrnyai yang rela mengorbankan diri untuk mengusir penjajah.

Tokoh-tokoh yang kita kenal, baik pada masa pergerakan, perang kemerdekaan, maupun masa pembangunan, seperti Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Hasanudin, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Cut Nyak Dien dan tokoh nasional lainnya.

“Mereka adalah tokoh agama, ulama, kiyai, ajengan yang rela mengorbankan diri, berjuang agar Indonesia terbebas dari penjajahan,” katanya.

Pada masa pergerakan, kita mengenal HOS  Cokroaminoto, H Agus Salim, H Kahar Muzakar, KH Wahid Hasyim, KH Hasyim Asy ‘Ari dan masih banyak lagi serta ulama-ulama kiyai-kiyai yang lain. Ada KH Zaenal Mustofa, dan yang lainnya. Mereka ulama-ulama yang berjuang demi Indonesia merdeka.

Kita ingat peristiwa 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Disaat Indonesia merdeka, ternyata sekutu (penjajah) masih ingin kembali ke Indonesia. Dibuktikan dengan Inggris kembali menduduki Surabaya. Kemudian tokoh ulama, kiyai bermusyawarah untuk mengusir mereka karena kemerdekaan Indonesia harus dipertahankan.

Saat itu, Bung Karno meminta fatwa dari KH Hasim Asy’ari. Diantara fatwanya terhadap kemerdekaan dan apa hukumnya jihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan apa hukumnya terhadap orang yang mati dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hadrotu Syeh mengatakan, kemerdekaan Indonesia adalah syah, Republik Indonesia yang diproklamasikan taggal 17 Agustus 1945 syah secara syar’I. untuk itu hukumnya wajib mempertahankannya.

Orang yang mempertahankan kemerdekaan dan kemudian mati di medan laga, matinya adalah mati syahid. Berdasarkan fatwa Hadrotu Syeh inilah, kata Wamenag, kemudian kyai-kiyai dari berbagai daerah berangkat menuju Surabaya. Dari Cirebon misalnya, dipimpin Kiyai Abas bergerak menuju Surabaya. Bayangkan pada waktu itu belum ada kendaraan yang seperti sekarang ini. Mereka berjalan kaki dengan sesekali berhenti sambil mengumpulkan kiyai-kiyai lainnya. Di breres berhenti, di Tegal, Pekalongan, di Kendal berhenti. Mereka bergerak berduyun-duyun, berbondong-bondong berangkat menuju Surabaya untuk mengusir sekutu dari Republik tercinta ini.

Semangat Jihad Mengusir Penjajah

Terjadilah peperangan sengit dan luar biasa. Bung Tomo memekikan “Allahu Akbar”. mereka bangkit semangat perjuangannya mengusir penjajah.dengan senjata seadanya, bambu runcing, kelewang dan lainnya, tapi semangat jihad yang luar biasa, berhasil mengusir para penjajah. Bahkan Jenderal Malabi terbunuh pada saat itu. Peristiwa inilah yang kemudian kita peringati setiap tanggal 10 Novemner sebagai peristiwa Hari Pahlawan. Karena kita ingin mengenang jasa suhada-suhada kiyai dan santri yang korban demi Indonesia tercinta.

Pada masa kemerdekaan, tokoh-tokoh berkumpul untuk menyusun naskah proklamasi, meletakan dasar-dasar kemerdekaan. Atas apa Indonesia merdeka. Kemudian kita kenal Pancasila. Itu juga merupakan rumusan dari tokoh-tokoh yang sebagian merupakan kiyai dan ulama yang kita hormati.

Begitu pula pada era kemerdekaan seperti sekarang ini, lanjut Wamenag, sudah banyak orang-orang yang dulunya belajar di pesantren seperti kalian, sekarang sudah banyak yang berhasil menjadi pemimpin di republik ini. Pada jabatan bupati, gubernur banyak, termasuk yang berdiri disini. Kiyai Adib Kakanwil Jabar), Kiyai Kusoy (pimpinan Ponpes Daarul Ma’arif), Kiyai Muharram Marzuki (Direktur Bina KUA), dan Kiyai A. Umar (Direktur KSKK), Masya Allah, mereka rata-rata dari santri.

“Saya tadi dipanggil Kiyai, saya bukan kiyai tapi saya lebih senang di panggil santri. Santri itu boleh nakal, kalau kiyai nggak boleh nakal,” katanya berkelakar.

Diangkat Derajat Disisi-Nya

Wamenag mengatakan, Baginya selamanya akan menjadi santri, karena menuntut ilmu tidak ada batas waktunya dan prinsipnya, siapapun orang yang mengajarkan saya walaupun hanya satu huruf, akan saya jadikan diri ini sebagai hambanya sebagaimana yang disampaikan sayyidina Ali r.a. Siapa orang yang mengajarkan ilmu meskipun hanya satu hurup akan jadikan diri sebagai hambanya, sebagai orang yang saya hormati karena ilmu itu memiliki tempat yang sangat mulia. Orang itu dinilai dari ilmunya dan Allah menjanjikan orang-orang berilmu akan diangkat derajatnya.

Kalian sebagai santri jangan merasa minder, kecil hati karena sudah terbukti, pesantren bukan saja melahirkan generasi-generasi yang pintar, cerdas, tetapi juga generasi yang berakhlakul karimah. Santri juga mampu membuktikan dan pernah memimpin republik ini menjadi orang nomor satu, KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Yang menjadi Wapres saat ini juga dulunya santri, yakni  Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin,” ungkapnya seraya menutup perbincangannya dengan ratusan santri Daarul Ma’arif.

Di akhir kata, Wamenag RI tak lupa mengafresiasi dan mendo’akan pondok Daarul Ma’arif, wabil khusus pada Kiyai Kusoy dan Ummi Hj. Iis Siti Aisyah sebagai pendiri pondok senantiasa diberi umur panjang dan berkah, sehat selalu. Begitu pula do’a disampaikan untuk para santrinya yang terlihat berderet dengan rapih tak bergeming di depan podium. Selain disiplin, mereka mematuhi dengan seksama protokol kesehatan sesual yang dianjurkan dinas terkait sehubungan dengan Covid-19 yang belum berakhir. Jaga jarak, cuci tangan, memakai masker dan lainnya. [A. Zaeni/nolduanews]***