Connect with us

Sejarah

Dewan Kebudayaan Ciamis: Ingin Mengenal Sejarah Sunda Datang Ke Karangkamulyan

Published

on

CIAMIS – Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis Dr. H. Yat Rospia Brata mengatakan, Ciamis merupakan sejarah sunda di Jawa Barat. Jadi kalau masyarakat luar ingin mengenal sejarah sunda, datang saja langsung ke Situs Karangkamulyan, karena disitu banyak sejarah sunda.

“Sebetulnya di Karangkamulyan itu semuanya ada yang berkaitan dengan sejarah sunda, dari mulai rumah adat, pakaian adat dan barang-barang yang digunakan sesepuh dahulu juga ada,” ujarnya saat ditemui Nolduanews, Rabu (30/1/2019).

Yat mengungkapkan, seharusnya Situs Karangkamulyan bisa dijadikan ajang pagelaran atau teater untuk film yang bernuansa sunda, karena di Karang Kamulyan masih utuh akan nuansa sunda.

“Fasilitas di Karang Karangkamulyan semuanya memadai, jadi Karang Kamulyan bisa dijadikan tempat shooting film nuansa sejarah sunda. Selain pakaian dan rumah adat, di sana juga ada pohon dan sungai yang pas akan nuansa sunda,” ungkapnya. (Ferry/Nolduanews)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Sejarah

Situs “Batu Ngampar” di Desa Cibadak Banjarsari Diduga Peninggalan Kerajaan Kawasen

Published

on

Ciamis – Kecamatan Banjarsari tepatnya di desa Cibadak, ada sebuah perkampungan yang terkenal dengan sebutan “Pasir Goong”. Kenapa disebut Pasir Goong?. Menurut warga setempat dan para sesepuh karena memiliki cerita tersendiri, bahkan masih bertahan sampai saat ini.

Banyak kejadian aneh di lokasi tersebut berupa suara mistik yang terkadang
membuat bulu kuduk berdiri. Konon dulunya lokasi ini tempat hiburan rakyat, dan menurut warga setempat juga ada tukang becak yang membawa penumpang perempuan cantik turunnya di daerah Pasir Goong dan secepat kilat tidak kelihatan kemana perginya.

Kondiai batu ngampar yang dianggap bekas bangunan Kerajaan Kawasen. Foto: Nolduanews

Nama Pasir Goong sendiri berasal dari kata gong yang mengistilahkan sebuah
sebuah suara yang keluar dari suatu alat, di daerah tersebut juga terdapat fenomena aneh yang sampai saat ini masih terjadi yakni ada suara gamelan dan diikuti suara gong.

Biasanya setelah kemunculan suara tersebut terjadi sesuatu hal berupa bencana banjir, angin kencang, maupun kejadian lainnya. Warga sempat mencari sumber suara namun tidak pernah
ketemu.

Lokasi Pasir Goong paling tinggi dibandingkan daerah lainnya, dan di sebelahnya ada sebuah lapangan yang besar yang sudah ada sejak dulu.
Dengan ditemukannya hamparan batu cadas di perkampungan Pasir Goong, dusun Cibeureum desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis ada titik terang kemungkinan dulunya lokasi tersebut merupakan kerajaan Kawasen atau kerajaan sebelumnya, namun hal ini harus dibuktikan secara empiris oleh para arkeolog.

Kepala Desa Cibadak, Olis Nurholis mengatakan, penemuan batu ngampar ini sebetulnya sudah lama oleh masyarakat, namun tidak terlalu di expose.

“Dengan diresmikannya Hotel Domba di kawasan Cibadak, Kamis (10/1-2018) dan
rencana kedepannya akan dijadikan lahan wisata agro dan wisata peternakan, maka sekalian batu-batu yang terhampar akan dijadikan situs sejarah,” katanya, saat ditemui Nolduanews, Selasa (29/1/2019).

Olis mengungkapkan, posisi tepatnya hamparan batu tersebut berada di belakang kantor Balai Pertanian Banjarsari dan tengah-tengah kebun yang ditanami singkong. Hamparan batu cadas tersebut
seperti buatan manusia tersusun rapi.

“Warga sekitar mempercayai batu-batu tersebut adalah salah satu peninggalan kerajaan kawasen. Dari berbagai informasi warga sekitar dan sumber yang dapat dipercaya, peninggalan-peninggalan dari kebesaran Kadaleman Kawasen yang tersisa sampai saat ini hanya berupa
makam-makam dari para Dalem Kawasen yang berkuasa di Kawasen beserta para pejabat,” ungkapnya.

Olis menyampaikan, di Kecamatan Banjarsari sendiri orang kebanyakan hanya tahu Kawasen itu adalah salah satu Desa di Kecamatan Banjarsari yang tidak ada sejarahnya. Selain itu, tidak tampak bahwa
dulunya di Banjarsari merupakan sebuah Kabupaten yang besar dan masyhur di Tatar Parahiyangan dengan nama Kawasen.

Hal ini terjadi karena Kurangnya kesadaran masyarakat untuk kembali menelusuri sejarah atau Nyakcruk Galur Mapay Patilasan.

“Kami secepatnya akan menghubungi Dinas Parwisata dan mendatangkan arkeolog agar teka-teki situs batu ngampar dan letak kerajaan Kawasen terjawab,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu warga setempat, Drs. Agam Gurnadi mengatakan, sampai
saat ini belum diketahui letak yang tepat dimana kerajaan Kawasen berada.

“Mungkin dengan penemuan situs ini menjadi penanda bahwa disini merupakan pusat dari kerajaan Kawasen atau juga bisa kerajaan sebelum Kawasen, karena sejarah Kawasen berkisar di abad 16,” katanya.

Agam menambahkan, adapun keturunannya, saat ini belum diketahui secara pasti dikarenakan tidak ada peninggalan atau tulisan yang menunjukkan silsilah keturunan Raja atau Adipati Kawasen.

“Banjarsari disinyalir menjadi pusat Kerajaan Kawasen yang luas wilayahnya dari Pamotan Kalipucang sampai Bojong Lopang Cimaragas. Sebelah utara Banjarsari, seperti Sindanghayu, Purwadadi, Lakbok. Dulu masih berbentuk rawa-rawa dan selatan barisan
bukit-bukit, serta perbatasan dengan kerajaan pananjung Pangandaran,” pungkasnya. (Ferry/Emas/Nolduanews)

Continue Reading

Berita

Ciamis Urutan 8 Di Jabar Dalam Kunjungan Ke Borobudur

Published

on

CIAMIS – Kabupaten Ciamis urutan ke 8 se Jawa Barat, dalam kunjungan wisata ke situs Budaya Candi Borobudur dan Prambanan. Hal tersebut diungkapkan oleh Assisten Domestic Market PT. Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko Pusparani Saraswati isaat Sosialisasi Warisan Budaya Dunia (World Culturial Heritage) bersama Wakasek Kesiswaan SMP Se Kabupaten Ciamis, Kamis (22/11) Di Aula Disdik Ciamis.

“Khusus Pelajar rangking pertama di Jawa Barat dalam kunjungan wisata paling banyak ke Candi Borobudur dan Prambanan, yakni Kota Bogor. Sedangkan Kabupaten Ciamis diurtan 8 se Jawa Barat,” kata Pusparani.

Puspa menyampaikan, pihaknya juga selalu melakukan Promosi dan Edukasi ini di seluruh Daerah Jawa Barat, jadi bukan hanya di Kabupaten Ciamis saja.

“Promosi dan Edukasi ini sangat penting karena untuk melestarikan warisan Budaya Dunia. Jadi kalau kita melihat sisi komersialnya saja apa yang terjadi kedepanya kalau tanpa ada pelestarianya, sedangkan Borobudur dan Prambanan itu merupakan warisan budaya dunia yang semua orang tau,” ungkapnya.

Jadi selain Promosi dan Edukasi lanjut Puspa, pihaknya juga mensosialisasikan lebih detail tentang candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Agar masyarakat mengetahui lebih dalam lagi tentang situs-situs warisan budaya dunia, bukan hanya sekedar luarnya saja.

“Jadi bukan hanya sekedar foto-foto saja di Candi Borobudur atau Prambanan, tetapi juga bisa mengetahui detail sejarah candi-candi tersebut,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Peserta Didik Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis Asep Wahyu mengatakan, kegiatan ini sangat mendukung bagi sekolah di Kabupaten Ciamis, untuk lebih mengetahui secara keseluruhan tentang sejarah warisan budaya dunia jika akan melakukan study tour kesana.

“Saya sangat mendukung sekali, karena kegiatan ini sangat baik. Khususnya bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Ciamis yang akan melakukan study tour ke Yogjakarta,” pungkasnya. (Ferry/Nolduanews)

 

Continue Reading

Berita

Terancam Punah, Sanggar Seni Asta Mekar Bagikan 500 Calung Renteng Ke Sekolah

Published

on

Tasilmalaya – Dalam rangka melestarikan Budaya Nusantara, Sanggar Seni Asta Mekar kembali menggebrag Tasikmalaya dengan membagikan 500 alat musik Calung Renteng ke 13 sekolah di Kota Tasikmalaya, Selasa (18/9/2018).

Pembagian Calung tersebut adalah salah satu Program Kerja Sanggar Seni Asta Mekar berkolaborasi dengan Mojang Jajaka Tasikmalaya, dan Aliansi Penggiat Seni Mahasiswa dalam rangkaian menuju pagelaran akbar bertajug Festival Calung Renteng yang akan dimainkan 500 Siswa dari perwakilan SMA dan SMK se Tasikmalaya di Taman Wisata Karangresik Tasikmalaya 14 Oktober 2018 mendatang.

Program ini merupakan event akbar pertama di Kota Tasikmalaya yang berkenaan dengan seni tradisional dalam rangkaian Preanger Tourism Fair yang diselengarakan oleh beberapa komunitas di wilayah Priangan Timur.

Ketua Pembina Sanggar Seni Asta Mekar, Tomi Ahmad Saputra mengatakan, acara ini merupakan bentuk kepedulian terhadap alat musik tradisi di Tasikmalaya yang terancam punah yaitu Calung Renteng.

“Kami ingin mengedukasi kearifan lokal dan mengapresiasi Calung Renteng kepada semua orang terutama masyarakat Kota Tasikmalaya,” katanya ketika ditemui di Caffe D’Sugar sebelum penyaluran 500 Unit Calung.

Sementara itu ketika ditemui Ketua Panitia Festival Calung Renteng Riki Muhamad Hamzah menjelaskan, pembagian Calung Renteng ke Sekolah ini akan ditindak lanjut dengan pelatihan khusus oleh relawan yang sudah diberi pembekalan materi lagu yang akan ditampilkan di Karangresik 14 Oktober mendatang berkolaborasi dengan tari tradisional, perkusi, dan angklung.

“Selama ini pemerintah sulit ikut serta dalam membantu program kami. Dalam acara ini juga, pemerintah tidak memberikan satu rupiah pun. Dana yang dikeluarkan ini hasil kreasi usaha kami sendiri,” kata Riki.

Preanger Tourism Fair Travelmart bertujuan untuk mengenalkan masing-masing daerah se-wilayah Priangan Timur, dan membukakan mata dunia bahwa Priangan Timur berpotensi menjadi tempat pariwisata yang indah. (Rusdianto/adv/Nolduanews)

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: