Kerusuhan di Mako Brimob, Polisi Didesak Transparan

0
0 views
kerusuhan brimob

DEPOK,FOKUSjabar.co.id:Pengamat terorisme Harits Abu Ulya meminta kepolisian menjelaskan secara transparan soal kerusuhan di rumah tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok Jawa Barat, pSelasa (8/5) malam. Agar masyarakat tahu yang sebenarnya.

“Insiden ini memang sangat disayangkan. Bahkan sempat dikabarkan sampai terjadi penyanderaan aparat kepolisian oleh napi teroris dan perampasan senpi. Biar publik tidak berspekulasi maka alangkah baiknya jika pihak kepolisian transparan membeber kronologi yang sebenar-benarnya,” kata dia seperti dikutip cnnindonesia.com.

Harits mengatakan polisi perlu menjelaskan apakah ada unsur kelalaian dari aparat dalam kerusuhan itu, atau memang insiden terjadi di luar prediksi. Termasuk kemungkinan kondisi-kondisi pra kejadian yang bisa memantik rusuh hingga terjadi perampasan senpi.

Lebih lanjut, Harits juga menduga senjata yang dirampas adalah milik aparat dan juga barang bukti kasus terorisme Poso.

“Jika benar senpi itu bisa dirampas napiter (napi terorisme) maka bagaimana bisa senjata itu dibobol dari gudang penyimpanan atau di rampas dari aparat,” ujar Harits.

Harits menyebut publik saat ini menunggu penjelasan yang transparan dan jujur mengenai kerusuhan di Mako Brimob.

“Dengan demikian bisa mereduksi spekulasi dan sangkaan publik mengenai ada rekayasa atau skenario memancing para napiter untuk membuat kerusuhan demi sebuah kepentingan dibalik itu semua,” ujar dia.

Kerusuhan di Mako Brimob pecah pada Selasa malam sekitar pukul 22.00 WIB, dan baru bisa dikendalikan pada Rabu (9/5), sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Korban luka dari aparat dan narapidana berjatuhan.

Salah satu sumber CNNIndonesia.com menyebutkan setidaknya empat anggota kepolisian mengalami luka di antaranya memar di mata dan mulut, luka sobek dalam di kepala bagian belakang, serta luka akibat terkena lemparan asbak.

Sejumlah Polisi Alami Luka-luka dalam Kerusuhan Mako Brimob
Dari pihak narapidana belum diketahui berapa jumlah yang terluka. Polisi hanya menegaskan tidak ada korban tewas dalam kerusuhan itu.

Sampai saat ini, polisi belum memberikan keterangan resmi perihal penyebab kerusuhan.

Kasus ini sebenarnya pernah terjadi, ketika itu  narapidana terorisme juga pernah terjadi pada 10 November 2017, bermula saat petugas rutan menemukan empat unit telepon seluler milik tahanan kasus terorisme, yakni Juhanda, Saulihun, Kairul Anam, dan Jumali, usai salat Jumat.

Salah satu tahanan tidak terima dan memancing petugas dengan melontarkan ucapan yang tidak sopan. Hal ini memicu reaksi tahanan dari blok lain. (epi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here