KH Abdul Halim Diusulkan Jadi Nama Bandara Majalengka, Siapakah Dia?

0
7 views
google.com

PAHLAWAN nasional KH Abdul Halim menjadi salah satu nama yang diusulkan untuk penamaan Bandara Internasional Jawa Barat ( BIJB) di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat yang bakal diresmikan Juni 2018. Siapakah sosok KH Abdul Halim itu?

Abdul Halim dilahirkan tanggal 4 Syawal 1304 H (26 Juni 1887) di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Dia adalah keturunan ulama besar pada zamannya Ayahnya bernama KH. Muhammad Iskandar berasal dari Banten dan jadi Penghulu di Jatiwangi. KH Muhammad Iskandar kemudian mempersunting gadis setempat bernama Siti Mutmainah dan dikarunia tujuh anak dan salah satunya adalah Abdul Halim sebagai anak bungsu.

Masa kecil Abdul Halim dihabiskan dengan memperdalam ilmu agama. Keluarganyalah yang mendidiknya, namun kebersamaan dengan ayahnya hanya sebenatar karena ayahnya meninggal dunia saat Abdul Halim baru berusia 7 tahun. Selanjutrnya Abdul Halim diasuh oleh Ibu dan keenam kakaknya. Kecintaannya kepada ilmu agama sudahh ditunjukkan Abdul Halim sejak kecil. Saat berusia 10 tahun, Abdul Halim belajar Alquran dan Alhadits kepada KH Anwar seorang ulama terkemuka dari Ranji Wetan Majalengka.

KH Anwar adalah guru pertamanya diluar keluarga. Belajar kepada orang lain Abdu Halim sangat disiplin, tiada hari tanpa belajar. Bukan hanya ilmu agama saja yang dipelajarinya disiplin ilmu lainnya juga didalaminya. Abdul Halim juga tak pilih-pilih mazhab atau aliran dalam mempelajari ilmu. Yang penting bermanfaat bagi dirinya. Bahkan Abdul Halim pernah belajar bahasa Belanda dan huruf latin Van Hoeven kepada seorang pendeta dan missionaris Kristen di Cideres, Majalengka.

Menginjak usia remaja Abdul Halim mulai belajar lebih luas lagi Belajar di berbagai Pondok Pesantren. Diantaranya: Pesantren Lontangjaya Penjalin Leuwimunding Majalengka asuhan KH. Abdullah, Pesantren Bobos Sumber Cirebon asuhan KH. Sujak, Pesantren Ciwedus Timbang Cilimus Kuningan asuhan KH. Ahmad Shobari, Pesantren Kedungwangi Kenayangan Pekalongan asuhan KH. Agus.

Setelah menginjak usia 21 tahun, Abdul Halim menikah dengan Siti Murbiyah putri KH. Ilyas (Penghulu Landraad Majalengka) yang kemudian hari dikaruniai 7 orang anak. Walaupun sudah berkeluarga, Abdul Halim tidak lantas berhenti belajar. Sebagai pecinta ilmu, ia meneruskan dan memperdalam ilmu-ilmu keislaman di tanah kelahiran Islam, yaitu Mekah. Di Tanah Suci, ia berguru kepada ulama-ulama besar, satu diantaranya ialah Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Sejarah mencatat bahwa Syeikh Ahhmad Khatib al-Minangkabawi adalah salah seorang ulama al-Jawi (Nusantara) yang menetap di Mekah, bahkan menjadi ulama besar dan Imam Masjid al-Haram pada masa hidupnya. Syeikh dari Minangkabau inilah guru dari ulama-ulama besar Indonesia abad ke-20 yang banyak berkecimpung dalam perjuangan bangsa Indonesia dan pergerakan nasional, seperti Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH, Wahab Hasbullah, KH. Mas Mansyur, KH. Bisri Syansuri, Syeikh sulaiman ar-Rasuli, Syeikh Mustafa Husein Nasution, KH. Sirajuddin Abbas, Syeikh Khatib Ali, KH. Agus salim, dan banyak lagi lainnya. Bisa dikatakan bahwa Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah guru para nasionalis Islam Indonesia.

Di Tanah Suci Mekah, KH. Abdul Halim terkenal sangat toleran kepada teman-temannya, baik dari kalangan pembaharu maupun kalangan tradisionalis. Hal itu di buktikan bahwa KH. Abdul Halim banyak bergaul dengan KH. Mas Mansyur (tokoh Muhammadiyah) dan KH. Wahab Hasbullah (tokoh Nahdlatul Ulama) hingga hubungan mereka bertiga menjadi sangat dekat dan akrab –walaupun kedua sahabat karib beliau berbeda tempat pengabdian. Selain itu juga ditunjang dengan pembacaan beliau yang beraneka ragam terhadap ilmu-ilmu keislaman dan sosial-kemasyarakatan.

Setelah tiga tahun belajar di Tanah Suci Mekah, KH. Abdul Halim kembali ke Tanah Air. Beliau mendirikan lembaga pendidikan Majlis Ilmi di Majalengka (1911), untuk mendidik putra-putra daerah. Setahun kemudian, setelah Majlis Ilmi berkembang, beliau mendirikan sebuah oerganisasi bernama Hayatul Qulub, dimana Majlis Ilmi merupakan bagian di dalamnya.

Hayatul Qulub yang didirikan tahun 1912 itu bergerak dalam lapangan ppendidikan dan perekonomian. KH Abdul Halim berusaha memajukan tingkat pendidikan dan perekonomian –terutama sektor perdagangan– masyarakat. Sesuai dengan bidang usahanya maka anggota organisasi ini bukan saja dari kalangan guru, kiyai dan santri, tetapi para petani dan pedagang.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang perdagangan tentu saja tidak akan lepas dari persaingan dagang, khususnya dengan para saudagar pendatang. Keadaan lebih sulit lagi ketika pemerintah Hindia-Belanda melalui penguasa setempat banyak membela kepentingan-kepentingan para pedagang dari Cina yang diberi status hukum lebih kuat dibanding pedagang pribumi. Persaingan ini memuncak ketika terjadi kerusuhan di Majalengka, dimana toko-toko milik para pedagang Cina diserang oleh sebagian oknum asal pribumi (1915). Pemerintah Hindia-Belanda menuding Hayatul Qulub pimpinan KH. Abdul Halim sebagai biang keladi kerusuhan. Akibatnya, organisasi Hayatul Qulub dibubarkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda dan dilarang meneruskan kegiatannya. Untuk menyelamatkan kepentingan perjuangan Islam, KH. Abdul Halim mengambil langkah kembali ke Majlis Ilmi dalam membina kader-kadernya, sambil menunggu perkembangan keadaan.

Ketika keadaan mulai membaik, KH. Abdul Halim mendirikan lembaga pendidikan yang lebih baik, diatur dengan sistem klasikal dan koedukasi, sebagai metamorfosa dari Majlis Ilmi. Lembaga yang diberi nama Jamiyyah al-I’anah al-Muta’allimin ini secara resmi berdiri pada 16 Mei 1916 M. Setahun kemudian, dengan dukungan HOS Cokroaminoto, lembaga tersebut dikembangkan dan berganti nama menjadi Persyarikatan Ulama, yang kemudian dikenal dengan PUI (Persyarikatan Ulama Indonesia).

Persyarikatan Ulama Indonesia mempunyai tujuan pokok, antara lain: A) Memajukan dan menyiarkan pengetahuan dan pengajaran agama Islam. B) Memajukan perihal penghidupan yang didasarkan atas hukum Islam. C) Memelihara tali percintaan dan persaudaraan yang kuat dan membangunkan hati supaya suka tolong-menolong antara satu dengan lainnya.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu PUI berusaha mendirikan dan memelihara sekolah, menerbitkan, menyiarkan dan menjual buku-buku (kitab-kitab), brosur, surat kabar dan majalah yang berisi bernafaskan keislaman, meningkatkan pertanian dan perdagangan serta perekonomian lainnya, mendidik pemuda yang sebagai kader muslim masa mendatang, serta bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan muslim lainnya demi memajukan Islam.

Persyarikatan Ulama Islam yang berdiri 1917 itu, sejak 1924 mengalami perkembangan yang ditandai dengan berdirinya cabang-cabang PUI di berbagai daerah di Jawa dan Madura, dan kemudian semenjak 1937 meluas ke daerah-daerah lain di Indonesia. Walau organisasi ini tidak sebesar NU dan Muhammadiyah, tetapi peran yang diambilnya tidak bisa dikatakan kecil bahkan bisa dikatakan bahwa PUI seakan-akan merupakan perpaduan antara kedua organisasi tersebut. KH. Abdul Halim dengan PUI-nya menganut madzhab Syafi’i (sebagaimana NU yang mengikuti salah satu dari Madzhab Empat) tetapi juga menerima dan membuka luas akan adanya pembaharuan (sebagaimana lazim dikalangan Muhammadiyah).

Dalam dunia politik KH. Abdul Halim menjadi anggota Sarekat Islam yang kemudian menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Ulama ini banyak berhubungan dengan HOS Cokroaminoto dan juga tokoh-tokoh Sarekat Islam lainnya. Sikapnya sangat moderat dan penuh toleransi, terbukti ketika DR. Sukiman dipecat dari PSII karena kemelut yang terjadi di internal partai, KH. Abdul Halim tidak menyetujui pemecatan tersebut dan tetap menghendaki adanya penyelesaian masalah secara musyawarah.

KH. Abdul Halim dalam mengelola pendidikannya banyak mengambil rujukan dari tokoh-tokoh lain, banyak mengambil nasehat dan contoh yang baik, tidak pandang dari siapa asalnya. Misalnya, dia mencontoh Jam’iyah al-Khairat dan al-Irsyad di Jakarta, bahkan dari Perguruan Tinggi Santiniketan di India, beliau juga banyak mengambil contoh dari Ki Hajar Dewantara dan Muhammad Syafe’i yang keduanya merupakan tokoh pendidikan nasional. KH. Abdul Halim menempatkan murid-muridnya dalam asrama pesantren yang diberi nama Santi Asromo (Asrama Damai) yang didirikan bulan April 1932 di kaki Gunung Ciremai, Pasir Ayu Sukahaji Majalengka.

Disamping mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan, Persyarikatan Ulama Indonesia, KH. Abdu Halim Majalengka juga menerbitkan beberapa majalah, antara lain: Suara Persyarikatan Oelama, Suara Islam, asy-Syura, Miftah as-Sa’adah, Pengetahuan Islam, Berita PO (Persyarikatan Oelama), al-Mu’allimin, Pemimpin Pemuda dan Petunjuk Jalan Kebenaran. Banyaknya judul majalah ini menunjukkan jalannya pengelolaan yang kurang mulus, apalagi kesuluruhan majalah tersebut umurnya hanya 11 tahun, yang terbit 1930-1941 secara bergantian judul ataupun secara bersamaan. Hal ini dapat dimaklumi karena keadaan saat itu belum semaju sekarang. Walau demikian, upaya ini merupakan langkah progresif yang diambil oleh KH. Abdul Halim beserta kader-kadernya.

Sebagai salah seorang tokoh pergerakan nasional dan pemimpin organisasi Persyarikatan Ulama Indonesia, wajar apabila tokoh ini memiliki pengaruh cukup besar. Beliau termasuk salah seorang dari sekian banyak tokoh Indonesia yang ikut membahas rencana pembentukkan negara Indonesia pada masa akhir penjajahan Jepang. KH. Abdul Halim termasuk anggota dari Dokuritsu Tyunbi Tyoo Sakai alias Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang diresmikan 29 Mei 1945 bersama KH. Wahid Hasyim, KH. Masykur, KH. Mas Mansyur, KH. Abdul Kahar Muzakir, KH Agus salim dan beberapa tokoh lainnya.

Abdul Halim terkenal sebagai seorang ulama yang berpendirian tegas, tetapi sikapnya begitu toleran dengan masyarakat terlebih di kalangan Ulama. Beliau adalah pengikut madzhab Syafi’i, tetapi menghormati rekan-rekannya yang tidak bersedia ikut madzhab atau dikenal dengan kelompok reformis (pembaharu). Ia tidak segan-segan menerima ilmu yang datang dari orang lain, walau tidak sealiran dengannya, begitu pula dalam pembaharuan pendidikan dan pesantren yang di pimpinnya.

Ulama besar asal Majalengka Jawa Barat ini mengabdikan dirinya kepada Allah, mendarmabaktikan dirinya kepada umat, bangsa dan negara, dan khususnya dalam pengembangan pendidikan Islam tiada henti-hentinya sampai akhir hayat. KH. Abdul Halim wafat di Majalengka pada 7 Mei 1962 dalam usia 75 tahun namun perjuangannya masih dilanjutkan oleh putra-putra dan murid-muridnya hingga kini. Dengan demikian sangat layak kalau KH Abdul Halim dijadikan nama BIJB.

Revansyah Albanjari

sumber: islamtajug

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here