Lebaran dan problematika Urbanisasi

Oleh : Hernawan Mahabrata *)

Lebaran jatuh setahun sekali. Kehadirannya tentu membawa berkah bagi umat islam diseluruh dunia. Budaya Mudik menjadi tren positif bagi perkembangan daerah. Karena disana ada tukar pendapat yang berujung pada mitivasi sukses. Ada juga alur transaksi ekonomi yang dibawa masyarakat kota ke daerah, sehingga perokonomian daerah menjadi meningkat walau sesaat.

Namun begitu, momentum lebaran juga meninggalkan problematik tersendiri khususnya bagi perkotaan. Lebaran sering dijadikan sarana untuk urbanisasi (Pindah dari daerah ke kota). Mereka pergi ke kota untuk sekedar mengadu nasib. karena didaerah dianggap kurang layak.

Ada pertanyaan yang muncul, ada apa dengan Urbanisasi? Tentu mereka punya jawaban yang berbeda-beda. Dari dialog dengan beberapa orang, didapat dua jawaban. Pertama Susahnya mencari kerja di daerah. Kedua, Kecilnya gaji yang didapat, sehingga tidak dapat menutupi kebutuhan yang kian meningkat.

Jawaban itu sungguh sangat menggelitik, daerah dianggap kurang menjanjikan bagi masa depan mereka. Padahal potensi daerah sungguh sangat melimpah, dari mulai pengelolaan sektor pertanian, perikanan dan perkebunan. Home industri (pengelolaan hasil Pertanian) juga sebetulnya sangat menjanjikan. Bahkan hasil produksinya banyak dibeli masyarakat perkotaan.

Ciamis dan antisipasi Ubanisasi 
Di kabupaten Ciamis, data yang diterbitkan Dinas Sosial, Tenaga kerja dan Transmigrasi, pada tahun 2016 tercatat ada sekitar 11.000  yang membuat surat AK I untuk pencari kerja. Logika dari data tersebut,  di Ciamis berarti ada sekitar 11.000 pengangguran dan itu yang tercatat, belum termasuk yang tidak tercatat.

Ini tentu menjadi PR bagi semua komponen, khususnya pemerintah kabupaten agar urbanisasi dari Ciamis tidak membludak. Jika dibiarkan, Ciamis dikhawatirkan menjadi kabupaten pengangguran. Ini kan horor, karena pengangguran biasanya akan dibarengi  dengan munculnya angka kriminalitas.

Dua solusi yang harus jadi perhatian pemerintah kabupaten Ciamis. Pertama, Penyediaan lapangan pekerjaan. Baik sekala kecil, menengah atau besar. Investasi dari luar daerah diberi kesempatan yang seluas-luasnya dengan berbagai kemudahan regulasi. Sehingga mampu menyerap tenaga kerja.

Selain itu, home industri (Produksi rumahan) yang dimiliki pengusaha kelas menengah kebawah diberikan ruang untuk dibina, dilatih dan diberi akses permodalan, sehingga kualitas produksinya mampu bersaing di pasar umum. Pemkab Ciamis juga harus mempertajam regulasinya pada setiap pasar modern yang ada di Ciamis agar wajib menampung produk-produk UMKM.

Kedua, Pemkab harus berani menjamin kesejahteraan buruh dengan merubah regulasi  Upah minimum Kabuapaten (UMK) secara bertahap, sebab buruh ini menjadi aktor dalam perputaran barang yang di produksi.

Dengan dua solusi tadi, maka urbanisasi dapat dicegah. Kemakmuran dan kesejahtraan masyarakat di daerah akan terus meningkat. Dan angka pengangguran akan semakin berkurang.

Urbanisasi dan Pengangguran adalah hantu bagi langgengnya peradaban manusis. Keduanya malaju bagai bola salju. Jika tidak diantisipasi akan menjadi momok menakutkan bagi kesejahteraan manusia.

Pemerintah menjadi fasilitator dan motivator utama agar keduanya terurai menjadi benang kemakmuran bagi segenap warganya. Dibutuhkan Pemimpin daerah yang konsen dan respon terhadap masalah ini.

Bukan Pemimpin yang menjadikan isu kesejahteraan ini menjadi  jualan saat kampanye saja. Namun aksi nyata di lapangan. Masyarakat sudah sangat bersabar dengan kondisi ini. *****

*) Hernawan Mahabrata, Ketua DPM KM IAID. Bendahara LAPMI HMI CABANG CIAMIS
Anggota HMI CABANG CIAMIS