Connect with us

Sejarah

Legenda Bumi Rongsok, Kisah Ulama Penyebar Islam Di Tasikmalaya

Published

on

Kabupaten Tasikmalaya – “……….Ngudag guligahna hate mapay-mapay wahangan ciwulan dina nyungsi carita teu betus titingal karuhun.. rumasa ati cidra ngahieuman panenjo jadi hahalang, balukar ngentabna seuneu nu geus nyaliara dina dada ulah rajawisuna. tomada, seja unjuk salam. wakcana ati, seja bubumen nanceubkeun tohagana kai jati nu waras, pikeun memeres wangunan rusak. pamundut, seja nyuprih piwuruk sepuh, cukang lantaran hiji rusiah nu dipendem dina ngaran jeung tempat sajarah Bumi rongsok,…..”

*****
Ada yang menarik dari Desa Papayan. Sebuah hutan kecil bernama Bumi Rongsok berada ditengah pilemburan, berjarak lk 100M dari Kantor Desa Papayan. Hutan dengan luas area 500 m tersebut terlihat masih alami. Warga setempat betul-betul menjaga kelestariannya. sangat menghormati budaya dan adat istiadatnya. Di hutan tersebut masih ada pohon berusia ratusan tahun. Dan beberapa hewan semisal monyet, lutung masih sering terlihat.

Di jalan, Gapura Bumi Rongsok terlihat jelas. Situs sejarah Bumi Rongsok terletak di Kampung Demung Landung Desa Papayan Kecamatan Jatiwaras. Disana, dalam sebuah hutan kecil. mengalir air kolam dibalik sela rerimbunan dedaunan pohon berusia ratusan tahun. Sebuah altar ( peninggalan ) Bumi Rongsok menjadi saksi bisu munculnya sejarah bihari ( zaman dahulu), dimana nama dan tempat tersebut memiliki relevansi yang kuat. Sebuah rahasia dari perjalanan tokoh yang tersembunyi dibalik nama dan tempat sejarah Bumi Rongsok.

Bumi rongsok selain merupakan sebuah situs juga merupakan suaka alam dan marga satwa. Peninggalan lain Bumi Romgsok yang dapat dilihat yakni, Batu/ Menhir. konon, dulu berfungsi sebagai tempat penampungan air dan batu panjang tempat sembahyang. Dulu diBumi Rongsok terdapat berbagai senjata pusaka, diantaranya, tumbak, pedang, keris, pisau, golok dan bokor, namun pada tahun 1982 terjadi kebakaran di Ibukota desa ( sekarang Desa kolot) mengakibatkan seluruh benda pusaka terbakar.

Adapun yang memberi nama Bumi Rongsok yakni Eyang Bagus Jayadimantri. Bumi artinya tempat tinggal, Rongsok artinya subur. Adapun pengertian lain Bumi Rongsok yakni Gapura masuk tanah subur.

Menurut Legenda, dulunya Bumi Rongsok merupakan tempat tinggal para Eyang Dalem dan sentral penye baran Agama Islam abad 17 M. Didaerah tersebut dulunya penganut Agama Hindu- Budha. konon landung merupakan bekas perkampungan Agama Budha.

Adapun para tokoh penyebar Islam diantaranya, Eyang Dalem Bagus Jayadimantri, seorang ulama besar dari Garut. Eyang Sumapati dari Garut dan Eyang Raksabaya yang merupakan keturunan dari Sultan Mataram. Beliau mendapat tugas sebagai penjaga keamanan di Bumi Rongsok.

Asal muasal munculnya nama daerah Papayan, menurut cerita yang menyebar, diambil dari perjalanan sejarah seorang ulama dari Garut, Eyang Sumapati yang terdampar di Landung.

konon, saat pesantrennya hancur di terjang banjir besar, beliau mencari tempat bermukim. Beliau apay- apayan ( menyusuri) kali dikali Ciwulan dengan menaiki sintung dan berlabuh di landung ( sekarang berganti jadi demung landung) dan bergabung dengan para ulama dalam menyebarkan Agama Islam sampai akhir hayatnya.

Versi sejarah lain munculnya nama Papayan, dari sebuah cerita, tenggelamnya beberapa santri penduduk seberang kali ciwulan, yang hendak belajar mengaji. Eyang Sumapati apay-apayan ( menyusuri) sepanjang kalin Ciwulan guna mencari jasad santri.

Warga setempat sampai saat ini masih pengkuh dina ngamumule leuweung Bumi Rongsok, masih memegang tatali karuhun, Masih memegang pengkuh Bahasa pamali. semisal, dimana ada warga yang akan melaksanakan hajatan (kenduri) tidak boleh menabuh alat musik goong. konon, pernah terjadi perseteruan antara warga landung dengan warga sebrang kali Cipinaha, Sukakerta. konflik dua daerah tersebut dipicu adanya perayaan kenduri yang menampilkan kesenian musik. Bahkan terlontar Ucapan sumpah ( Cecaduan) kolot baheula, agar tidak mencari jodoh disebrang kali cipinaha.
*** ( Rusdianto/ Nolduanews.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Sejarah

Dewan Kebudayaan Ciamis: Ingin Mengenal Sejarah Sunda Datang Ke Karangkamulyan

Published

on

CIAMIS – Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis Dr. H. Yat Rospia Brata mengatakan, Ciamis merupakan sejarah sunda di Jawa Barat. Jadi kalau masyarakat luar ingin mengenal sejarah sunda, datang saja langsung ke Situs Karangkamulyan, karena disitu banyak sejarah sunda.

“Sebetulnya di Karangkamulyan itu semuanya ada yang berkaitan dengan sejarah sunda, dari mulai rumah adat, pakaian adat dan barang-barang yang digunakan sesepuh dahulu juga ada,” ujarnya saat ditemui Nolduanews, Rabu (30/1/2019).

Yat mengungkapkan, seharusnya Situs Karangkamulyan bisa dijadikan ajang pagelaran atau teater untuk film yang bernuansa sunda, karena di Karang Kamulyan masih utuh akan nuansa sunda.

“Fasilitas di Karang Karangkamulyan semuanya memadai, jadi Karang Kamulyan bisa dijadikan tempat shooting film nuansa sejarah sunda. Selain pakaian dan rumah adat, di sana juga ada pohon dan sungai yang pas akan nuansa sunda,” ungkapnya. (Ferry/Nolduanews)

Continue Reading

Sejarah

Situs “Batu Ngampar” di Desa Cibadak Banjarsari Diduga Peninggalan Kerajaan Kawasen

Published

on

Ciamis – Kecamatan Banjarsari tepatnya di desa Cibadak, ada sebuah perkampungan yang terkenal dengan sebutan “Pasir Goong”. Kenapa disebut Pasir Goong?. Menurut warga setempat dan para sesepuh karena memiliki cerita tersendiri, bahkan masih bertahan sampai saat ini.

Banyak kejadian aneh di lokasi tersebut berupa suara mistik yang terkadang
membuat bulu kuduk berdiri. Konon dulunya lokasi ini tempat hiburan rakyat, dan menurut warga setempat juga ada tukang becak yang membawa penumpang perempuan cantik turunnya di daerah Pasir Goong dan secepat kilat tidak kelihatan kemana perginya.

Kondiai batu ngampar yang dianggap bekas bangunan Kerajaan Kawasen. Foto: Nolduanews

Nama Pasir Goong sendiri berasal dari kata gong yang mengistilahkan sebuah
sebuah suara yang keluar dari suatu alat, di daerah tersebut juga terdapat fenomena aneh yang sampai saat ini masih terjadi yakni ada suara gamelan dan diikuti suara gong.

Biasanya setelah kemunculan suara tersebut terjadi sesuatu hal berupa bencana banjir, angin kencang, maupun kejadian lainnya. Warga sempat mencari sumber suara namun tidak pernah
ketemu.

Lokasi Pasir Goong paling tinggi dibandingkan daerah lainnya, dan di sebelahnya ada sebuah lapangan yang besar yang sudah ada sejak dulu.
Dengan ditemukannya hamparan batu cadas di perkampungan Pasir Goong, dusun Cibeureum desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis ada titik terang kemungkinan dulunya lokasi tersebut merupakan kerajaan Kawasen atau kerajaan sebelumnya, namun hal ini harus dibuktikan secara empiris oleh para arkeolog.

Kepala Desa Cibadak, Olis Nurholis mengatakan, penemuan batu ngampar ini sebetulnya sudah lama oleh masyarakat, namun tidak terlalu di expose.

“Dengan diresmikannya Hotel Domba di kawasan Cibadak, Kamis (10/1-2018) dan
rencana kedepannya akan dijadikan lahan wisata agro dan wisata peternakan, maka sekalian batu-batu yang terhampar akan dijadikan situs sejarah,” katanya, saat ditemui Nolduanews, Selasa (29/1/2019).

Olis mengungkapkan, posisi tepatnya hamparan batu tersebut berada di belakang kantor Balai Pertanian Banjarsari dan tengah-tengah kebun yang ditanami singkong. Hamparan batu cadas tersebut
seperti buatan manusia tersusun rapi.

“Warga sekitar mempercayai batu-batu tersebut adalah salah satu peninggalan kerajaan kawasen. Dari berbagai informasi warga sekitar dan sumber yang dapat dipercaya, peninggalan-peninggalan dari kebesaran Kadaleman Kawasen yang tersisa sampai saat ini hanya berupa
makam-makam dari para Dalem Kawasen yang berkuasa di Kawasen beserta para pejabat,” ungkapnya.

Olis menyampaikan, di Kecamatan Banjarsari sendiri orang kebanyakan hanya tahu Kawasen itu adalah salah satu Desa di Kecamatan Banjarsari yang tidak ada sejarahnya. Selain itu, tidak tampak bahwa
dulunya di Banjarsari merupakan sebuah Kabupaten yang besar dan masyhur di Tatar Parahiyangan dengan nama Kawasen.

Hal ini terjadi karena Kurangnya kesadaran masyarakat untuk kembali menelusuri sejarah atau Nyakcruk Galur Mapay Patilasan.

“Kami secepatnya akan menghubungi Dinas Parwisata dan mendatangkan arkeolog agar teka-teki situs batu ngampar dan letak kerajaan Kawasen terjawab,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu warga setempat, Drs. Agam Gurnadi mengatakan, sampai
saat ini belum diketahui letak yang tepat dimana kerajaan Kawasen berada.

“Mungkin dengan penemuan situs ini menjadi penanda bahwa disini merupakan pusat dari kerajaan Kawasen atau juga bisa kerajaan sebelum Kawasen, karena sejarah Kawasen berkisar di abad 16,” katanya.

Agam menambahkan, adapun keturunannya, saat ini belum diketahui secara pasti dikarenakan tidak ada peninggalan atau tulisan yang menunjukkan silsilah keturunan Raja atau Adipati Kawasen.

“Banjarsari disinyalir menjadi pusat Kerajaan Kawasen yang luas wilayahnya dari Pamotan Kalipucang sampai Bojong Lopang Cimaragas. Sebelah utara Banjarsari, seperti Sindanghayu, Purwadadi, Lakbok. Dulu masih berbentuk rawa-rawa dan selatan barisan
bukit-bukit, serta perbatasan dengan kerajaan pananjung Pangandaran,” pungkasnya. (Ferry/Emas/Nolduanews)

Continue Reading

Berita

Ciamis Urutan 8 Di Jabar Dalam Kunjungan Ke Borobudur

Published

on

CIAMIS – Kabupaten Ciamis urutan ke 8 se Jawa Barat, dalam kunjungan wisata ke situs Budaya Candi Borobudur dan Prambanan. Hal tersebut diungkapkan oleh Assisten Domestic Market PT. Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko Pusparani Saraswati isaat Sosialisasi Warisan Budaya Dunia (World Culturial Heritage) bersama Wakasek Kesiswaan SMP Se Kabupaten Ciamis, Kamis (22/11) Di Aula Disdik Ciamis.

“Khusus Pelajar rangking pertama di Jawa Barat dalam kunjungan wisata paling banyak ke Candi Borobudur dan Prambanan, yakni Kota Bogor. Sedangkan Kabupaten Ciamis diurtan 8 se Jawa Barat,” kata Pusparani.

Puspa menyampaikan, pihaknya juga selalu melakukan Promosi dan Edukasi ini di seluruh Daerah Jawa Barat, jadi bukan hanya di Kabupaten Ciamis saja.

“Promosi dan Edukasi ini sangat penting karena untuk melestarikan warisan Budaya Dunia. Jadi kalau kita melihat sisi komersialnya saja apa yang terjadi kedepanya kalau tanpa ada pelestarianya, sedangkan Borobudur dan Prambanan itu merupakan warisan budaya dunia yang semua orang tau,” ungkapnya.

Jadi selain Promosi dan Edukasi lanjut Puspa, pihaknya juga mensosialisasikan lebih detail tentang candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Agar masyarakat mengetahui lebih dalam lagi tentang situs-situs warisan budaya dunia, bukan hanya sekedar luarnya saja.

“Jadi bukan hanya sekedar foto-foto saja di Candi Borobudur atau Prambanan, tetapi juga bisa mengetahui detail sejarah candi-candi tersebut,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Peserta Didik Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis Asep Wahyu mengatakan, kegiatan ini sangat mendukung bagi sekolah di Kabupaten Ciamis, untuk lebih mengetahui secara keseluruhan tentang sejarah warisan budaya dunia jika akan melakukan study tour kesana.

“Saya sangat mendukung sekali, karena kegiatan ini sangat baik. Khususnya bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Ciamis yang akan melakukan study tour ke Yogjakarta,” pungkasnya. (Ferry/Nolduanews)

 

Continue Reading

Trending

%d bloggers like this: