Legenda Situ Sanghyang Tasikmalaya, Sumber Air Konon Dari Lubang Sapu Lidi

0
8 views

KabupatenTasikmalaya,- Pemberian nama pada sebuah daerah atau tempat sejarah tak lepas dari sebuah peristiwa atau kejadian pada masa itu. Perjalanan kejadian dan para pelaku sejarah itu sendiri menyimpannya dalam bingkai cerita atau sebuah legenda, dimana didalamanya ada sesuatu hikmah untuk dijadikan contoh zaman kiwari.

Obyek wisata Situ Sanghyang yang berlokasi di dua desa, yakni Desa Cibalanarik dan Cilolohan Kecamatan Tanjungjaya merupakan kebanggaan Kabupaten Tasikmalaya, dimana danau tersebut menawarkan panorama yang eksotis dan Romantis juga terselip mistik.

Di Danau tersebut tersiar kabar adanya fenomena yang dikaitkan dengan mistik yakni sering terlihat berpindahnya rimbunan pohon kiara, maju dengan sendirinya ke tengah danau. Fenomena tersebut dijadikan totonden ( pertanda) bakal adanya sebuah kejadian.

Adapun legenda Situ Sanghyang yang menjadi versi masyarakat setempat dan diadopsi Dinas Pariwisata seperti yang diceritakan anggota Kompepar ( Kelompok Penggerak Pariwisata) Situ Sanghyang, Maslikan (46), Sebelum terjadinya nama situ terlebih dahulu muncul nama sanghyang.

Nama Sanghyang itu sendiri terjadi dari sebuah peristiwa sejarah yakni riuhnya suara yang saling berbenturan.

Konon menurut cerita, Bermula, seorang pangeran menculik seorang wanita cantik jelita, isteri seorang Resi dari Kebataraan Galunggung. Saat sang resi pulang dari laku tirakat tapa bratanya, isterinya sudah dibawa kabur sang pangeran.

Resi kemudian mencarinya hingga ke sebuah daerah yang dikenal dengan nama Saung Gantang. Ditempat itu ternyata tengah berlangsung pesta besar-besaran selama 7 Hari 7 Malam, yang ternyata Isterinya sendiri yang menjadi mempelai wanitanya.

Berulang kali sang Resi berteriak namun tidak ada yang menanggapinya dikarenakan riuhnya suara pesta. Sang Resi yang sudah menjelma menjadi Budak Buncir kemudian memanggil segerombolan anjing untuk mengacaukan pesta tersebut.

Suara gonggongan anjing diluar kemudian beradu dengan suara riuhnya pesta, lama kelamaan suaranya seperti ngahiang.

” Jadi nama sanghyang itu tercipta dari riuhnya dua suara yang beradu. Dan nama sang sendiri merupakan sang pelaku, yakni sang resi dan sang pangeran”, paparnya.

Adapun terjadinya Situ lanjut Maslikan, kelanjutan dari sejarah sanghyang, dimana pada saat itu, dikarenakan sang pangeran merasa terganggu dengan suara-suara diluar dan merasa terpancing dengan tantangan si buncir. Si Buncir akan berguru jika seandainya sang pangeran dan para punggawanya bisa mencabut 7 batang lidi yang berjejer.

Karena tidak ada yang sanggup mencabut lidi, dengan kesaktian sang resi, dari lubang batang lidi yang di cabut keluar air yang tidak terbendung dan membentuk sebuah situ/ danau.

Resi pun mengeluarkan supata (Kutukan), semua yang ikut tenggelam bersama pangeran menjelma menjadi Ikan.

sejak terbentuknya situ banyak keangkeran didaerah tersebut. Burung yang melintas didanau dan yang meminum air hilang tak berbekas. Kendati ada situ namun airnya tidak bisa dimanfaatkan warga.

Keangkeran Situ Sanghyang rupanya terdengar sampai kesultanan Cirebon, dan mengutus Prabu Linggawastu ditemani Lokananta dan Lokananti untuk menetralisir air situ tersebut untuk dipergunakan keperluan warga.

Prabu Linggawastu merupakan keturunan Mataram anak dari Raden Kamandaka. salah satu saudara Prabu Linggawastu yakni Mundingwangi bergelar Prabu Siliwangi. Prabu Linggawastu dimakamkan di seputar Situ Sanghyang bersama Lokananta dan Lokananti.

Tapi dibalik legenda Situ Sanghyang, ternyata sejarah tersebut berkaitan dengan Kepemerintahan Kabupatian Sukapura yang pada waktu itu dipegang R.Aggadipa ( Dalem Sawidak). Sejarah pemunculan nama Sawidak sendiri beragam versi.

Pengertian nama Sawidak di kalangan warga Sukapura diartikan sebagai Sebuah keturunan yang berjumlah 60 Orang. (Rusdianto/Nolduanews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here