Menyoal Sosialisasi Pilkada Di Kabupaten Ciamis

0
1 views

Oleh : Dendi Herdiana *)

Tahun 2018 adalah tahun politik, mengingat akan digelarnya pemilu serentak di berbagai kota/kabupaten maupun Provinsi di Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Ciamis.

Di Kabupaten Ciamis ada sekitar 27 kecamatan dan sekitar 260 desa. Topografi tiap daerahnya juga berbeda. Ada daerah yang masyarakatnya jauh dari akses perkotaan, serta hidup di perkampungan bahkan pegunungan. Daerah terpencil ini terkadang tidak terjamah dengan sosialisasi PILKADA yang dilakukan KPU.

Sosialisasi bertujuan memberikan pesan politik kepada masyarakat tentang pentingnya pemilihan umum. Sehingga masyarakat cerdas dalam memilih dan cerdas dalam menyikapi berbagai persoalan Pilkada terutama yang akan merusak tegaknya demokrasi, seperti money politik, golput dan mental panatik terhadap calon yang didukungnya.

Pemahaman masyarakat akan pentingnya pesta demokrasi yang sehat, outputnya akan menjadikan suasana politik khususnya di kabupaten Ciamis menjadi kondusif serta terhindar dari kerawanan sosial.

Kembali ke persoalan diatas, diakui oleh KPU saat sosialisasi pilkada yang dihadiri oleh mahasiswa yang ada di kabupaten Ciamis yang berjumlah 50 orang (11/04/2018), faktor belum ratanya sosialisasi tentang pilkada ke setiap desa/ kecamatan karena minimnya anggaran.

Padahal menurut hemat saya, anggaran kecil bukan penghambat sampainya pesan politik tentang Pilkada sehat kepada masyarakat, justru yang diperlukan adanya metode sosialisasi pilkada secara efektip, kreatif dan efisien.

Sosialisasi Pilkada saat ini terkesan tidak populis, karena hanya mengandalkan ceramah, seminar, workshop atau dengan alat peraga seperti baliho dan yang sejenisnya saja.

Itu perlu, namun tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Padahal kalau mau, seperti kata pepatah masih banyak jalan menuju roma. Penyelenggara Pemilu bisa membuat kerjasama dengan berbagai pihak, baik itu instansi yang berkaitan atau ormas, dan organisasi mahasiswa atau yang lainnya. Mereka lah nanti yang akan menjadi ujung tombak sosialisasi ditataran paling bawah. Dengan satu catatan, mereka harus menjaga indefendensi.

Hal lainnya, perlu ada sebuah forum seperti FGD (forum Grup Diskusi) yang dilaksanakan secara intensif dan pesertanya dari berbagai kalangan seperti tadi. Forum ini nantinya selain menjadi relawan demokrasi sehat juga akan bergerak serta merumuskan metodologi tersampaikannya pesan politik PILKADA ini kepada masyarakat secara efektip, kreatif dan efisien.

Sosialisasi kreatif bisa berupa dengan membuat saembara pembuatan film pendek tentang pentingnya pemilu yang bersih dan cerdas yang terhindar dari money politik dan goput.

Atau KPU sendiri yang membuat film pendek itu yang nantinya diputar disetiap desa/dusun dan sekolah-sekolah melalui relawan tadi.

Dan yang harus diingat, sosialisasi itu bukan sekedar pemahaman tentang siapa calonnya, nomor urutnya, melainkan yang lebih penting adalah bagaimana menyuarakan “pesan politik” tentang demokrasi sehat tanpa money politik dan golput.

Ide dan gagasan pasangan calon juga perlu disosialisasikan guna tercapainya pemilih cerdas dalam kerangka mensukseskan PILKADA 2018.

Mari mensukseskan dan mengawal terus PILKADA 2018 yang berkeadilan, cerdas dalam memilih dan cerdas dalam bersikap guna terwujudnya PILKADA yang sehat.

Wallohu ‘Alam Bissowab.

*) Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa IAID Ciamis 2017-2018

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here