Produk Makanan Ringan Jatiwaras Tasikmalaya Mampu Tingkatkan Kemandirian Masyarakat

0
5 views

Kabupaten Tasikmalaya,- Tercapainya kesejahteraan kemandirian masyarakat miskin perdesaan salah satunya dengan mengelola sumber daya yang ada dilingkungannya, baik Sumber Daya Manusia maupun Sumber Daya Alamnya.

Didaerah banyak sekali potensi alam yang memiliki prospek cerah untuk mengatasi masalah kemiskinan. Berjamurnya home industri didaerah-daerah semisal produksi makanan kudapan salah satu bukti adanya kemandirian dari masyarakat itu sendiri.

Beragam kendala guna mendongkrak ekonomi masyarakat kaum home industri pembuat makanan ringan berbahan dasar ubi jalar di Kecamatan Jatiwaras, juga dirasakan Kepala Bagian Pelayanan Masyarakat pada UPK DAPM Jatiwaras, Erwin Maya.

Kelompok produk binaan UPK DAPM ( Unit Pengelola Kecamatan Dana Amanah Pemberdayaan Masyarakat) yang selama ini dikelolannya masih berjalan di tempat. Merubah paradigma dari pelaku home industri
itu sendiri sangat sulit. Mereka sudah terbiasa dalam kebiasaan lama, baik dari cita rasa dan inovasi produknya masih gaya lama. Sedangkan pangsa pasar membutuhka inovasi berbeda baik dari cita rasa, bentuk maupun kemasan.

Selama ini UPK DAPM sudah memfasilitasi semuanya secara gratis, mulai dari penyediaan fasilitas label halal, kemasan produk dan nomor sertifikat PPIRT ( produksi pangan industri rumah tangga).

“UPK sudah memberikan peluang dan semuanya kembali ke pengrajinnya sendiri. Kemauan dari masyarakat sendiri masih kurang maksimal. Mereka cukup puas dengan produk mereka selama ini”, ungkap Erwin.

Dalam mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat khususnya bagi para pelaku home industri khususnya yang ada di kecamatan Jatiwaras perlu keterlibatan semua pihak. Lemahnya pemasaran produk harus menjad bahan pemikiran bersama. selama ini pemasaran produk bekerjasama dengan Mitra balarea dan khusus kemasan kerjasama denagan Inovak.

” Saat ini rutinitas produksi belum ada, pemasaran produk dilakukan masing-masing pengrajin, baik dijual ke warung-warung maupun ke pasar. Produk yang di pasarkan ke warung masih menggunakan produk lama, tanpa memakai kemasan produk yang sudah disiapkan UPK. Memasarkan produk yang berlabel berpengaruh pada nilai jual, akhirnya produk kurang laku diwarung”, tandasnya.

Memasuki tahun 2018 ini dirinya fokus pada pemasaran produk yang sudah ada, Saat ini yang sudah berlabel ada 21 produk.

“Saat ini pemasaran berdasarkan pemesanan saja”, pungkas Erwin dikantornya. ***( Rusdianto/Nolduanews.com )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here