Sejarah Penyebaran Agama Islam di Pangandaran

0
112 views
PANGANDARAN- Penyebaran Agama Islam di daerah pakidulan tepatnya Kabupaten Pangandaran mempunyai sejarah yang berkaitan dengan Kerajaan Mataram. Awalnya 27 April 1600 jatuhnya kekuasaan dari Giri Gersik ke Raja Amangkurat 2dengan bantuan Kompeni Belanda (VOC) dan singkat cerita bahwa dikisahkan ada sosok pemuda yang gagah tampan dan sakti yang merupakan penasehat amang kurat 2 bernama Sembah Kalincir Putih yang keluar dari Kerajaan Amang Kurat 2 karena Amang Kurat terlalu ikut ke VOC dan akhirnya Sembah Kalincir Putih meninggalkan tanah Mataram menuju ke Pangandaran.
Hal itu dikatakan Ky Ali Aziz yang merupakan keturunan ke tujuh dari Eyang Sembah Kalincir Putih. Ky Ali Aziz mengatakan bahwa penyiaran Agama Islam yang berada di Pakidulan Pangandaran tepatnya di Dusun Karang Petir Desa Cintakarya Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran merupakan penyinggahan pertama Eyang Kalincir Putih setelahnya angkat kaki dari tanah Mataram.
“Keberangkatan Eyang Kalincir Putih dari tanah Mataram satu rombongan dengan Eyang Sembah Agung yang merupakan Ulama Jumhur, dengan Eyang Tafsir salah satu sahabatnya yang sekarang simbol maqomnya di Dusun Pasuketan Desa Batukaras Kecamatan Cijulang dan Eyang Kalincir Putih merupakan Pemuda Gagah tampan pemberani ahli perang pada waktu itu berpencar dengan 2 sahabatnya tersebut mengembara di Dusun Karang Petir Desa Cintakarya Kecamatan Parigi ” kata Ky Ali Aziz.
Lebih lanjut Ky Ali Aziz menerangkan bahwa Eyang Sembah Kalincir Putihmempunyai dua isteri yang pertama Ibu Eyang Surtikah dan Ibu Eyang Sadur. Dari isteri pertama (Ibu Eyang Surtikah) Eyang Kalincir Putih mempunyai 3 putra yang pertama Eyang Jasih, ke dua Eyang Lesmana, ke tiga Eyang Lesmani. Dan dari 3 anaknya tersebut yakni Eyang Lesmana dan Eyang Lesmani yang merupakan kembar ngahiang (menghilang) di tanah Bagolo melangkah satu langkah ke nusakambangan dan terus menghilang.
“Eyang Lesmana dan Eyang Lesmani ngahiang di tanah Bagolo, dan diceritakan oleh pendahulu saya bahwa mereka ngahiang saat melangkahkan kaki satu langkah dari tanah Bagolo ke Nusakambangan” tambah Ky Ali Aziz.
Senada dengan itu Kaka pertama Ky Ali Aziz yaitu KH. Abdul Aziz mengatakan bahwa pasca ngahiangnya putra Eyang Sembah Kalincir Putih yang kembar yaitu Eyang Lesmana dan Eyang Lesmani Eyang Kalincir Putih mempunyai keturunan yang lain dari isteri yang ke dua memberikan ilmu Agama dan selalu mengamanahkan bahwa yang harus dipegang adalah masalah aqidahan, tauhid, tasawuf, dan thorekat dan  hingga sampai pada buyutnya bernama Eyang Suja’i hal yang paling utama adalah masalah ke tasawufan.
“Yang diamanahkan oleh Eyang Sembah Kalincir Putih kepada keturunannya adalah masalah keagamaan. Karena ternyata setelah berpuluh tahun eyang kembar menghiang yaitu Eyang Lesmana dan Eyang Lesmani Eyang Sembah Kalincir pun ngahiang tepatnya di Dusun Karang Petir Desa Cintakarya Kecamatan Parigi

Eyang Suja’i pernah menceritrakan bahwa Eyang Sembah Kalincir Putih itu setelahnya ngahiang muncul di laut Kalipucang bertepatan dengan tanah Bagolo dimana eyang kembar Lesmana dan Lesmani ngahiang, dan pada waktu itu juga langsung menghiang lagi. Karena pihak kami sebagai keturunanya menyimpulkan memberikan tanda simbol maqom dengan membuat cirri di tempat ngahiangnya Eyang Kalincir Putih di Dusun Karang Petir, dan bila bertepatan pada tanggal 17 Agustus setiap tahun tepatnya pada pukul 8 ditempat tersebut selalu dor dar petir dan kilat walaupun tak ada hujan” kata KH. Harun Al-Aziz.
Lebih lanjut KH. Harun Al-Aziz mengatakan bahwa amanat Eyang Sembah Kalincir Putih kepada Eyang Suja’i untuk menyiarkan Agama Islam akhirnya mendirikan sebuah masjid bernama Masjid Al-Ikhlas pada tahun 1939 dan diteruskan oleh Ayahanda KH. Abdul Aziz sekaligus dijadikan markas para pemuda dikala ada serangan dari Belanda waktu itu.
“Singkat cerita setelahnya Eyang Suja’i mendirikan masjid Al-Ikhlas dan diamanahkan kepada generasi seterusnya Ayahanda KH. Abdul Aziz yang wafat pada tahun 1987 yang pada wafatnya terjadi keanehan karena dari dada Almarhum Ayahanda mengeluarkan sinar yang teramat silau yang berjalan ke udara menuju kearah selatan”

Masih dikatakan KH. Harun Al-Aziz, setelahnya wafat KH. Abdul Azizkeluarganya akhirnya mendirikan Pondok Pesantren As-Sujja’iah yang sampai saat ini juga masih berdiri dan dalam ajarannya memperdalam ilmu keagamaan aqidahan, tauhid, tasawuf, dan thorekat di Dusun Cintasari Desa Cintaratu Kecamatan Parigi yang dikelola oleh adiknya Ky Mukhsin Aziz di damping dengan Ky Ali Aziz, karena KH. Harun merupakan anak pertama juga diamanahkan untuk mendirikan Pondok Pesantren juga di Dusun Bontos Desa Cintaratu Kecamatan Parigi pada waktu itu oleh Ayahnya KH Abdul Aziz untuk memperdalam ilmu aqidahan, tauhid, tasawuf, dan thorekat. (ND-News/CAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here