Situs “Batu Ngampar” di Desa Cibadak Banjarsari Diduga Peninggalan Kerajaan Kawasen

0
423 views
Batu ngampar yang be berjajar di Pasir Goong Nolduanews

Ciamis – Kecamatan Banjarsari tepatnya di desa Cibadak, ada sebuah perkampungan yang terkenal dengan sebutan “Pasir Goong”. Kenapa disebut Pasir Goong?. Menurut warga setempat dan para sesepuh karena memiliki cerita tersendiri, bahkan masih bertahan sampai saat ini.

Banyak kejadian aneh di lokasi tersebut berupa suara mistik yang terkadang
membuat bulu kuduk berdiri. Konon dulunya lokasi ini tempat hiburan rakyat, dan menurut warga setempat juga ada tukang becak yang membawa penumpang perempuan cantik turunnya di daerah Pasir Goong dan secepat kilat tidak kelihatan kemana perginya.

Kondiai batu ngampar yang dianggap bekas bangunan Kerajaan Kawasen. Foto: Nolduanews

Nama Pasir Goong sendiri berasal dari kata gong yang mengistilahkan sebuah
sebuah suara yang keluar dari suatu alat, di daerah tersebut juga terdapat fenomena aneh yang sampai saat ini masih terjadi yakni ada suara gamelan dan diikuti suara gong.

Biasanya setelah kemunculan suara tersebut terjadi sesuatu hal berupa bencana banjir, angin kencang, maupun kejadian lainnya. Warga sempat mencari sumber suara namun tidak pernah
ketemu.

Lokasi Pasir Goong paling tinggi dibandingkan daerah lainnya, dan di sebelahnya ada sebuah lapangan yang besar yang sudah ada sejak dulu.
Dengan ditemukannya hamparan batu cadas di perkampungan Pasir Goong, dusun Cibeureum desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis ada titik terang kemungkinan dulunya lokasi tersebut merupakan kerajaan Kawasen atau kerajaan sebelumnya, namun hal ini harus dibuktikan secara empiris oleh para arkeolog.

Kepala Desa Cibadak, Olis Nurholis mengatakan, penemuan batu ngampar ini sebetulnya sudah lama oleh masyarakat, namun tidak terlalu di expose.

“Dengan diresmikannya Hotel Domba di kawasan Cibadak, Kamis (10/1-2018) dan
rencana kedepannya akan dijadikan lahan wisata agro dan wisata peternakan, maka sekalian batu-batu yang terhampar akan dijadikan situs sejarah,” katanya, saat ditemui Nolduanews, Selasa (29/1/2019).

Olis mengungkapkan, posisi tepatnya hamparan batu tersebut berada di belakang kantor Balai Pertanian Banjarsari dan tengah-tengah kebun yang ditanami singkong. Hamparan batu cadas tersebut
seperti buatan manusia tersusun rapi.

“Warga sekitar mempercayai batu-batu tersebut adalah salah satu peninggalan kerajaan kawasen. Dari berbagai informasi warga sekitar dan sumber yang dapat dipercaya, peninggalan-peninggalan dari kebesaran Kadaleman Kawasen yang tersisa sampai saat ini hanya berupa
makam-makam dari para Dalem Kawasen yang berkuasa di Kawasen beserta para pejabat,” ungkapnya.

Olis menyampaikan, di Kecamatan Banjarsari sendiri orang kebanyakan hanya tahu Kawasen itu adalah salah satu Desa di Kecamatan Banjarsari yang tidak ada sejarahnya. Selain itu, tidak tampak bahwa
dulunya di Banjarsari merupakan sebuah Kabupaten yang besar dan masyhur di Tatar Parahiyangan dengan nama Kawasen.

Hal ini terjadi karena Kurangnya kesadaran masyarakat untuk kembali menelusuri sejarah atau Nyakcruk Galur Mapay Patilasan.

“Kami secepatnya akan menghubungi Dinas Parwisata dan mendatangkan arkeolog agar teka-teki situs batu ngampar dan letak kerajaan Kawasen terjawab,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu warga setempat, Drs. Agam Gurnadi mengatakan, sampai
saat ini belum diketahui letak yang tepat dimana kerajaan Kawasen berada.

“Mungkin dengan penemuan situs ini menjadi penanda bahwa disini merupakan pusat dari kerajaan Kawasen atau juga bisa kerajaan sebelum Kawasen, karena sejarah Kawasen berkisar di abad 16,” katanya.

Agam menambahkan, adapun keturunannya, saat ini belum diketahui secara pasti dikarenakan tidak ada peninggalan atau tulisan yang menunjukkan silsilah keturunan Raja atau Adipati Kawasen.

“Banjarsari disinyalir menjadi pusat Kerajaan Kawasen yang luas wilayahnya dari Pamotan Kalipucang sampai Bojong Lopang Cimaragas. Sebelah utara Banjarsari, seperti Sindanghayu, Purwadadi, Lakbok. Dulu masih berbentuk rawa-rawa dan selatan barisan
bukit-bukit, serta perbatasan dengan kerajaan pananjung Pangandaran,” pungkasnya. (Ferry/Emas/Nolduanews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here