Catatan Perjalanan Haji 2019. Didepan Makan Rosululloh SAW, Dibawah Angka 38

by -
MASJID NABAWI MADINAH - Didepan Maqom Rosululloh SAW, Dibawah Angka 38 (foto ; Aep Saepulloh)

Atas idzin Alloh SWT, tahun 2019 ini saya dianugerahi Alloh untuk berhaji. Kegembiraan memenuhi panggilan Alloh untuk berhaji bukan saja karena sampainya antrian panjang sejak daftar 7 tahun lalu, tapi yang lebih berkesan saya bisa berangkat bersama kedua orangtua. Sungguh kenikmatan yang luar biasa bagi saya dan keluarga.

Sebagai Ikhwan TQN, satu Minggu sebelum berangkat saya Sohbah ke Pangersa Abah Aos Ra, Qs (Mursyid TQN Suryalaya ke – 38) sekaligus memohon restu atas anugrah berhaji bagi saya sekeluarga ini.

Sudah bukan hal aneh lagi bagi Ikhwan TQN Suryalaya, sebelum menyampaikan maksud, Abah sudah duluan berfatwa sangat kumplit tentang haji. Manasik haji 38 menit bersama pangersa Abah seperti menghantarkan saya menuju makna haji yang sebenarnya.

Diakhir Sohbah, Abah hanya mengucapkan kalimat, ” Jig sing jadi haji da haji jadi mah enggeus (Semoga Jadi haji, kalau Haji Jadi kan sudah -red)” kata Abah. .

Selama perjalanan dari rumah ke Embarkasi, Indonesia – Jedah, Umroh untuk berhaji Tamattu, Arofah, Muzdalifah, Mina hingga meninggalkan Mekkah menuju Madinah. Tak satupun hambatan merintangi.

Saya merasakan Abah selalu mendampingi disetiap gerak dan langkah.

Tak ada yang berani mendorong walau berdesakan saat Thowaf. Saat Wukuf di Arofah pun cuaaca dan alam sangat bersahabat.

Mina saat dilanda hujan badaipun tak terasa panik. Dan tenda dimana saya tinggal baik baik saja, tidak seperti yang dialami jemaah haji lain, ada yang kebanjiran bahkan rubuh.

Begitu pun saat Lempar Jumroh, ratusan ribu jamaah berdesakan, saya seperti diberi jalan lengang.

Saya tidak punya cerita apapun tentang semua proses haji, kecuali tiga kata Lancar, lancar dan lancar.

Selesai proses haji di Mekah. Saya bersama rombongan menuju Madinah. Kota yang selalu mengganggu benak saya, kerinduan bertamu kepada Rasulullah Muhammad Saw. Kerinduan bertamu kepada puluhan ribu sahabat beliau. Dan Kerinduan kepada sebuah kota dimana Rosululloh membangun peradaban dunia secara politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Datang di penghujung malam di kota Madinah, tubuh ini terasa lemah. Tubuh ini mengigil kedinginan walau cuaca saat itu sangat panas, hingga mencapai 42 derajat Celcius.

Ya, saya terserang demam.

Saya memutuskan untuk istirahat di kamar, hingga datang waktu Dzuhur. Saya baru bisa masuk Masjid Nabawi saat Sholat Dzuhur.

Setelah berjamaah Ashar, saya antri untuk bisa melepas kerinduan berziarah ke Makom Rosul. Alhamdulillah dimudahkan, tidak harus saling dorong bahkan bisa berfoto di pintu Roudhoh. Suatu keadaan yang sangat langka didapat jemaah lain.

Air mata ini tak kuasa jatuh begitu cepat, tak henti bahkan. Alloh menyampaikan saya dihadapan maqom pejuang kemanusiaan paling agung. Mengenang sejarah panjang perjuangan beliau. Manusia suci yang karya kemanusiaannya langgeng hingga saat ini. Dan diikuti oleh milyaran manusia di seantero Jagat. Ia adalah Rosululloh Muhammad SAW.

Beruntung bagi saya dan keluarga dipertemukan dengan pelanjut beliau untuk selalu menjadi pengaman, pengamal dan pelestari ajaran suci ini. Guru sekaligus orangtua ruhani kami. Pangersa Abah Aos, Ra. Qs.

Selepas berziarah, saya digiring Asykar untuk segera keluar Makom Nabi. Saya hanya mengikuti orang banyak yang keluar melalui sebuah pintu ke arah selatan. Saya masih awam tentang masjid Nabawi, saya hanya mengikuti kemana arah kaki ini berjalan sambil terus berdzikir.

Tiba diluar mesjid, saya melihat sebuah pemakaman ramai diziarahi jamaah. Ternyata itu pemakaman Baqi, ditempat ini puluhan ribu sahabat Nabi dimakamkan.

Saya bergegas untuk menuju tempat itu.

Namun tiba tiba langkah kaki ini harus terhenti. Pelataran masjid Nabawi begitu panas. Sore itu cuaca memang mencapai 45 derajat Celcius. Saya memutuskan untuk mengambil sanda di tas dan mencari tempat untuk berteduh.

Alangkah kagetnya, saat menoleh ke sebelah kiri dari pintu keluar Makam Nabi, saya melihat sebuah angka pintu mesjid Nabawi. Angka itu ada pemiliknya. Ya angka 38. Angka sang Sirnarasa. Mursyid TQN Suryalaya ke 38. Pangersa Abah Aos Ra. Qs.

Pintu itu berdampingan dengan dengan kawasan makan Nabi.
Sebelum berziarah ke makam Baqi, saya terus memandangi angka itu. Begitu indah skenario Alloh telah menyampaikan saya ke makam Rasulullah dan saat waktu bersamaan dipertemukan juga dengan angka 38.

Didepan Makan Rosululloh SAW dan disamping angka 38, saya terus mengingat sang guru Mursyid Pangersa Abah Aos Ra. Qs.

Terima kasih atas semua bimbingannya Abah. Mohon maaf belum bisa menjadi murid yang dibanggakan.

Madinah Munawwaroh,

29 Agustus 2019
Aep Saepulloh
Pimpinan Umum Situs Berita Nolduanews.com