12 TAUJIHAT & IRSYADAT Guru Agung Hadrotu Syeikh ABAH AOS Ra Qs dalam KEGIATAN DAKWAH TQN PP Suryalaya Sirnarasa

by -

12 TAUJIHAT & IRSYADAT
Guru Agung Hadrotu Syeikh ABAH AOS Ra Qs dalam KEGIATAN DAKWAH TQN PP Suryalaya Sirnarasa

Berikut ini 12 Taujihat & Irsyadat dari Guru Agung ABAH AOS Ra Qs yang dihimpun Pembantu Khusus ABAH AOS, Abah Jagat, saat mengemban amanah di Madrosah TQN Suryalaya Sirnarasa EROPA untuk para Ikhwan TQN Suryalaya Sirnarasa, wabilkhusus para Kyai, Asatidz, Mubaligh, dan Dai’ di seluruh Dunia.

1. Ceramah/ber-dakwah jangan nunggu (diri) bener. Kalau nunggu (diri) bener kapan ceramah/ber-Dakwah-nya [Dalam bahasa Sunda, ‘Ngomong ulah nungguan bener! Atuh nunggu bener heula mah iraha ngomong-na’]

2. Ceramah/ber-dakwah jangan lama-lama, karena kita ceramah/berdakwah tidak hanya sekali, dan ‘jangan besar pasak dari pada tiang’: banyak ngomong kurang amal. Bisa mengganggu/merusak kesehatan. Oleh karenanya, sehabis ceramah/dakwah jangan langsung tidur, kerja dulu, ngisi dulu, amaliyah dulu.

3. Muballigh/Da’i bukan plang petunjuk jalan.
Menunjukkan jalan untuk orang lain, sedangkan dirinya diam tidak kemana-mana.

4. Mubaligh/Da’i bukan calo angkutan, hanya mengajak menawarkan kepada orang lain untuk berangkat ke satu tujuan, tapi dirinya tak sampai ke mana-mana, tetap saja diam di sana.

5. Yang wajib mendengarkan ceramah kita adalah telinga kita sendiri. Telinga kita menghadap ke depan agar jadi yang pertama kali mendengar ucapan kita sendiri.

6. Jangan menyampaikan ilmu yang baru yang belum dipakai belum diamalkan. Sebaliknya yang harus disampaikan adalah ilmu bekas, ilmu second, ilmu yang sudah lusuh karena kita amalkan. Karena, bagaimana orang lain mau beli jika kita sendiri belum atau tidak memakainya.

7. Sampaikan apa yang kita ingat. Sebelum ceramah ingatlah Guru. Ceramah jangan seperti orang kesurupan, menyinggung kesana kemari. Tinggalkan saja. Jika ada yang ceramah suka menyindir.

8. Jangan merasa bisa, merasa pintar, dan merasa pandai. Tapi, ‘harus bisa, harus pintar, dan harus pandai merasa’.

9. Tugas kita mengenalkan Guru dan Ajaran yang sudah menjadi Amalan mereka.

10. Jangan datang ke tempat Manaqib jika tidak punya ongkos pergi & pulang. (*

11. Kalau datang ke tempat Manaqib jangan suka berniat ingin disuruh jadi Imam, atau ingin jadi penceramah, atau ingin ditunjuk jadi petugas (Manaqib). Luruskan dan bersihkan hati untuk (hanya) khusu’ ber-ma’mum dan khidmat dalam amaliyah-ilmiyah Manaqib.

12. Jangan suka panjang angan-angan, berharap dikasih, apalagi berharap amplop tebal dari shohibul hajat. Karena sebelum datang pun amplop itu sudah ditutup rapat.

Demikian Petunjuk dari Pangersa Guru Agung, semoga kita semua di-bisa-kan mengamalkan-nya dengan sungguh-sungguh.

Salam Khidmah dari
Madrosah TQN PPS Eropa,
Pembantu Khusus ABAH AOS, Abah Jagat

*) Sebaliknya kepada para Ikhwan pemangku Manaqib, Pangersa Abah berpesan, “Kepada para Ikhwan Abah titip ‘kaki dan perut’ para mubaligh/da’i.” Diperhatikan transport dan uang makan, semampunya.