Catatan Perjalanan Haji 2019 : Menuju Towaf Ifadoh

by -

Catatan Perjalanan Haji 2019 :
Menuju Towaf Ifadoh

Oleh : Aep Saepulloh (Pemimpin Redaksi Nolduanews.com)

5 Hari perjalanan Puncak Haji, Arofah Muzdalifah dan Mina (Armina) telah menguras energi para Jemaah haji. Namun begitu, prosesi berhaji belum selesai. Masih ada kewajiban Jemaah sebagai bagian dari Wajib haji, yakni Thowaf Ifadoh.

Perjuangan para jamaah dalam melaksanakan prosesi ibadah haji tentu memerlukan banyak pengorbanan. Bukan hanya materi tapi juga pisik dan psykis. Sangat Adil jika Alloh hanya mewajibkan berhaji sekali seumur hidup, itupun bagi yang mampu.

Berkaca dari perjalanan haji dari tahun ke tahun. Alangkah bijak jika niat berhaji direncanakan sedini mungkin. Jangan menunggu usia lanjut. Karena prosesi haji membutuhkan pisik dan psykis yang kuat. Apalagi antrian pemberangkatan dari tahun ke tahun terus bertambah. Tahun ini saja antrian sudah mencapai 15 tahun.

Perjalanan dari Mina ke Mekah tidak begitu jauh. Hanya 12 km. Dzuhurpun kami sudah sampai di Hotel. Dan bisa melaksanakan ibadah sholat berjamaah di mesjid Hotel.

Selama di Hotel kami gunakan waktu untuk beristirahat, mempersiapkan pisik untuk melaksanakan satu lagi wajib haji, Thowaf Ifadoh.

Masjidil Harom hari ini dan besok (12 -13 Dzulhijjah) sudah pasti dipenuhi jamaah haji. Tak ada ruang kosong. Karena hampir 2.5 juta jemaah melanjutkan kewajibannya untuk Thowaf Ifadoh.

Para Jemaah sudah tidak sabar menyelesaikan satu lagi kewajiban haji ini. Tak terlihat rasa lelah diraut wajahnya. Yang ada pancaran cahaya semangat untuk memenuhi semua kewajiban berhaji.

Secara bertahap dan berkelompok para jemaah mulai menuju Masjidil Harom dengan jalan kaki. Ada yang sore hari, Malam hari, bahkan pagi hari. Saya sendiri bersama keluarga memilih pergi pada dini hari.

Pukul 03.00 dini hari waktu setempat, kami sudah siap menuju Masjidil Harom. Dengan niat melaksanakan subuh berjamaah dan dilanjutkan dengan Thowaf Ifadoh.

Terpaksa harus jalan kaki. Sebab 3 hari sebelum dan sesudah puncak haji, pemeirintah Arab Saudi menghentikan seluruh moda angkutan, termasuk bis sholawat yang biasa beroperasi 24 jam secara gratis.

Kami bersama keluarga dan ditemani beberapa jamaah mulai berjalan menapaki trotoar. Menyusuri jalan Ibrohim Kholili. Jarak dari Misfalah tempat Hotel kami berada ke Masjidil Harom, sekitar 2.5 km. Jalan kaki sekitar 20 menit.

Kami bersama rombongan tidak bisa mendekati Masjid Harom, karena sudah penuh sesak oleh jutaan Jamaah. Akhirnya kami mengambil tempat sholat dekat WC 7, sekitar 0,5 km sebelum Masjidil Harom. Disana kami dibisakan untuk melaksanakan sholat sunnah Tahajud dan berdzikir hingga datangnya waktu subuh.

Selepas berjamaah subuh. Kami menyelusup diantara barisan jemaah yang hendak menuju Masjidil Harom. Dan Alhamdulillah dibisakan dengan lancar sampai di Masjidil Harom. Namun begitu kami harus menunggu giliran agar bisa Thowaf dilantai bawah depan Ka’bah. Kamipun menunggunya dengan sabar.

Sebenarnya bisa saja kami melaksanakan Thowaf Ifadoh dilantai 2, 3 atau 4. Namun kami memilih lantai bawah walaupun harus menunggu dipintu masuk yang dijaga Asykar. Bagi kami Thowaf depan Ka’bah terasa lebih afdhol dan khusu.

Setengah jam menunggu, akhirnya jalan menuju lantai dasar perlahan dibuka Asykar. Alhamdulillah kami bisa masuk dengan leluasa dan dimampukan untuk Thowaf Ifadoh bersama ribuan jemaah lainnya di lantai dasar dekat Ka’bah. Segala puji bagi Mu ya Robb.

Selesai Thowaf, kami menuju pinggir dan mencari tempat laluasa untuk melaksanakan sholat mutlak. Dilanjut dengan Dhuha. Dan Berdoa.

Lagi lagi air mata ini tak bisa dibendung. Menetes jatuh ke lantai Masjid Harom. Demi kemuliaan Nabi Mu Ibrohim, Ismail dan Muhammad SAW. Didepan Rumah suci ini kami sampaikan rasa syukur yang tak terbatas. Dimampukan dan dibisakan melaksanakan semua prosesi haji dengan lancar. Aaamien Yaa Robbal ‘Aalamien.

Alhamdulillah semua prosesi berhaji, Rukun maupun wajib haji telah kami laksanakan dengan lancar. Secara syariat rasanya telah sempurna. Namun secara hakikat, hanya Alloh yang tahu. Kami tak luput berharap disetiap doa, agar dijadikan haji Mabrur. Aamien Yaa Robbal’Aalamien.

Selepas itu, kami bersama rombongan menuju tempat air Zam Zam dekat rumah Sayyid Abdullah, dimana Rosululloh Muhammad dilahirkan. Disana kami sepuasnya meminum dan membasuh badan dengan air barokah ini. Membawanya menggunakan bekas air mineral untuk dibawa ke Tanah air.

Sebelum pulang ke Hotel, kami sempatkan mampir ke lantai 3 Zam Zam Tower. Disana terdapat Cafetaria dan puluhan pedagang pernak pernik merchandise. Kami bersama rombongan mencicipi rendang masakan khas Arab Saudi. Hanya dengan 20 real untuk satu porsi. Setara dengan Rp. 80.000 rupiah. Cukup mahal untuk sebuah rendang jika dibandingkan dengan di Tanah air.

Kamipun kembali ke Hotel dengan berjalan kaki. Sungguh teramat bahagia sehingga tak terasa lelah dan letih.

(Bersambung)