Eksistensi Batik Ciamis (2)

by -

Eksistensi Batik Ciamis (2)
Oleh : Rd Heri Heryana S.Pd

Iklim usaha pengrajin batik tahun 1936 mulai terlihat, baik dari segi kwantitas usaha batik, hingga kwalitas bahan baku dan alat produksi yang mudah di dapat. Iklim tersebut antara lain dapat diciptakan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro-rakyat maupun stabilitas politik yang sedang berlangsung.Iklim usaha adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan suatu usaha (Departemen Koperasi dan PKK, 1986).

Belanda turut campur dalam usaha batik dengan mengekspor kain batik berbahan imitasi (palsu) ke jawa, menggunakan bahan baku kain katun yang didatangkan dari Amerika, karena saat itu permintaan garmen dari Negara Amerika tersebut sedang tinggi (Satmowi, 1984: 14). Belanda tertarik dengan ramainya pasar di Ciamis khususnya dengan adanya perdagangan batik yang banyak dilakukan oleh para pengrajin batik rumahan. Pemerintah Belanda memberikan kesempatan untuk mengembangkan sektor usaha ini dan melihat potensi yang besar dari usaha ini selaras dengan perkembangan masyarakat Ciamis yang dinamis.

Bukti ketertarikan Belanda dengan kerajinan kriya batik ini, dikenal itilah batik gaya Van Zuylen, karena memang orang yang bernama Van Zuylen-lah yang pertama memperkenalkan batik ini kepada masyarakat Belanda saat itu (Satmowi, 1984: 13).

Pada tahun 1939 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Awalnya batik dibuat untuk kepentingan primer individu. Koprasi Rukun Batik di tahun menghimpun para pengrajin sampai 421 pengrajin, Pemasaran batik Ciamisan saat itu juga dilirik oleh pemerintah Belanda karena dirasa memberikan keuntungan yang sangat besar dari perizinan dagang. Akhirnya pemerintah turut serta dalam permainan pemasaran batik. Industri batik Ciamisan masa ini sudah berkembang menjadi market oriented industry yaitu lokasi industri yang mendekati kantong-kantong konsumen potensial berada dimana dekat pasar akan lebih baik dan supply oriented industry yang merupakan jenis industri mendekati bahan baku berada guna memangkas biaya transportasi yang sangat besar saat itu. Pengalihan perhatian masyarakat dengan adanya industri batik di bawah naungan koperasi rukun batik pemasaran lokal meliputi Ciamis, Tasik, Garut (Kartiman. wawancara, 8 mei 2013).

Periode selanjutnya setelah Jepang kalah dari sekutu setelah kota Hirosima dan Nagasaki di Bom Atom. Selanjutnya bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya pada hari Jumat 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Hatta.Terbukti hanya beberapa saat saja setelah proklamasi dikumandangkan, Seni batik pada perkembangan ini bisa berkembang. Para pembuat batik banyak terinspirasi oleh hal-hal yang berbau perjuangan dan situasi pada saat itu, seperti batik Kusumanegara (nama pahlawan), Batik Tejosatrio (nama pahlawan dari Jawa pada masa penjajahan Belanda), Batik Proklamasi (deklarasi kemerdekaan bangsa Indonesia) banyak di temui di pasaran Ciamis, walaupun mereka masih kuat memadukanya dengan motif tradisional yang berciri khas.

Jelas ekspresi kegembiraan selama kurang lebih 350 tahun lamanya bangsa Indonesia di jajah dan tiba saat menggembirakan masyarakat Ciamis-pun mengekspresikan suasana gembira itu dan Industri batik Ciamisan-pun menciptakan sekaligus memproduksi jenis batik motif Sidomukti berlambang Garuda dan bendera merah putih dalam batiknya sebagai perlambang kemerdekaan. (Kartiman. wawancara, 8 mei 2013).

Dengan bantuan pemerintah RI, persatuan batik khususnya di Jawa diikat dengan sebuah wadah yang dinamakan GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) pada tahun 1948-an. Sejak tahun 1955, GKBI telah menjadi suatu kekuatan utama dengan menjadi importir dan distributor kain katun berlanjut menjadi sebuah kekuatan dalam bisnis perbatikan.H Abdul Majid dan Ny Hj Unah Siti Khodijah pendiri koperasi rukun batik sekaligus kedua orang tua bapak Otong Kardiman pun ternyata salah satu penggagas organisasi GKBI ini. (Kariman. wawancara, 8 mei 2013).

Pemerintah indonesia tidak lama kemudian mengharapkan pakaian batik menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia dan menjadi pakaian resmi di pemerintahan. Dalam empat dekade sejak tahun 1945 batik telah menjadi sesuatu yang lebih dikenal tidak hanya dari Jawa tetapi sebagai bagian dari Jawa tetapi sebagai bagian kebudayaan nasional hingga dimata International.

Di daerah Ciamis bapakOtong Kartiman mengenal batik sudah sejak kecil. Kecintaanya akan batik merupakan hal yang di turunkan oleh kedua orang tuanya menurutnya uyahmah moal netes kaluhur . Memang jelas orangtuanya, H Abdul Majid dan Hj Unah Siti Khodijah,tidak lain adalah pembatik. Mereka merupakan salah satu pelopor pemembuat batik tulis Ciamisan di rumahnya dan juga sekaligus pendiri Koperasi RukunBatik. (H Toha. wawancara, 11 mei 2013).

Pada periode tahun 1960-1965 industri batik Ciamis mengalami perkembangan pesat. Banyak motif batik yang di produksi di minati semisal motifcupat manggu, rereng taleus, rereng peuteuy, rereng eneng dan parang banyak di minati di pasaran.Kondisi ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang secara umum mencerminkan sikap proteksi terhadap sektor usaha golongan ekonomi lemah (pribumi). (disparbud. 2013 dalam website).

Tahun 1956 Otong Kartiman terjun ke usaha batik. Harapanya ia menyelesaikan SMA di Yogyakarta. Namun, ketika orangtuanya jatuh sakit, ia melanjutkan usaha batik itu. Produknya masih batik tulis Ciamisan yang menjadi andalanya.Batik Ciamis saat itu masih mempertahankan motif parang rusak.Ciri yang paling dominan adalah pada penggunaan warna.Batik Ciamis hanya menggunakan dua warna, misalnya warna coklat dan hitam dengan dasar putih. (Kartiman. wawancara, 8 mei 2013).

Pada tahun 1969, terdapat invasi dari pengrajin batik, yakni diciptakan batik lukisan. Perkembangan batik di Ciamis mulai meningkat pesat ketika Koperasi batik yang bergabung dalam GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia) turut membantu para pengusaha dalam penyediaan bahan mentah berupa kain mori dan obat pewarna untuk batik. Dalam kondisi demikian para pengusaha batik Ciamis memperoleh keuntungan yang melimpah, karena melalui koperasi diperoleh kain mori maupun obat-obat pewarna batik dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga di pasaran bebas, selain itu koperasi turut pula dalam membantu permodalan bagi para pengusaha dan pemasaran kain batik. Pada waktu itu pemerintah juga sedang aktif meningkatkan kekuatan ekonomi nasional, khususnya pengusaha pribumi melalui Rencana Urgensi .

Kejayaan batik Ciamisan menjadikan Ciamis dikenal sebagai sentra kerajinan batik di Jawa Barat bersama Tasikmalaya saat itu. Sebagai pemilik perusahaan maupun menjadi buruh di perusahaan-perusahaan batik hubungan kekeluargaan diantara para pengusaha batik pun sangat kuat. Para pengusaha batik ini membentuk ikatan kerja sama melalui hubungan keluarga untuk menguasai pasaran dan saling menjaga kelangsungan modalnya masing-masing (Rahman. 2013 dalam website).

Pada masa Perekonomian dan Program Benteng.Kebijakan ini secara eksplisit berusaha melindungi dan mengembangkan pengusaha-pengusaha pribumi serta menekan pengusaha-pengusaha dari kalangan Cina. Hal ini dilakukan dengan jalan menyediakan konsesi impor alokasi devisa dan kredit hanya bagi pengusaha-pengusaha pribumi (Muhaimin, 1990:5).

Daerah Kecamatan Ciamis, Desa Sindangrasa dan Desa Ciwahangan juga dikenal sebagai kampung yang sangat maju, berkat pesatnya perkembangan perusahaan-perusahaan batik tradisional. Para pengusaha batik berlomba membangun rumah yang mewah, dengan ciri khas dinding/temboknya yang tinggi.Tembok tinggi tersebut dimaksudkan untuk melindungi harta mereka dari tindak kejahatan.Pembangunan rumah dengan tembok yang tinggi tersebut, juga merupakan usaha mereka untuk menunjukkan status sosial mereka di mata masyarakat.

Selain itu didirikannya pabrik mori, sebagai bahan baku batik turut berperan pula meningkatkan taraf hidup masyarakat Ciamis, karena pabrik mori tersebut menyerap cukup banyak tenaga kerja. Pada masa 60-80an. Batik Ciamisan yang dikenal juga dengan nama batik Sarian menembus pasar Jakarta.(Uking. wawancara, 11 mei 2013).

Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan.Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri.Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa. (disperindagkop. 2010 dalam website).

Menurut UU No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.

Melihat pengertian industri diatas Perkembangan industri batik Ciamisan dipengaruhi oleh unsur-unsur, Pertama bahan baku industri batik yang melimpah, kedua, Jumlah tenaga kerja yang tersedia cukup banyak dengan spesialisasi kerjanya. Ketiga, peralatan industri batik yang mengalami kemajuan dengan di temukanya alat cap menggantikan canting. Keempat, stabilitas ekonomi yang semakin mantap yang menjadikan iklim usaha yang menguntungkan untuk orientasi kegiatan industri sehingga menghasilkan pasar yang kompetitif.

Produk batik yang membawa kejayaan Ciamisan pada tahun awal 1939-1980 berdasarakan penuturan (Katiman. wawancara, 8 mei 2013) diantaranya :rereng eneng, rereng taleus, cuwiri, parang , lepan kembang, lepan kukupu, rereng taleus.

Pemasaran industri batik Ciamis tahun 1939-2010 berkembang sedikit demi sedikit, dimulai dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran di tahun 1939. Berdirinya koprasi rukun batik di tahun ini pula menghimpun para pengrajin sampai 421 pengrajin Terbukti pemasaran batik Ciamisan masa ini sudah berkembang menjadi market oriented industry yaitu lokasi industri yang mendekati kantong-kantong konsumen potensial berada dimana dekat pasar akan lebih baik dan supply oriented industry yang merupakan jenis industri mendekati bahan baku berada guna memangkas biaya transportasi yang sangat besar saat itu. Pengalihan perhatian masyarakat dengan adanya industri batik di bawah naungan koperasi rukun batik dari pemasaran lokal meliputi Ciamis, Tasik, Garut samapi tahun 1970 dan Jakarta sampai menembus pasar Nasional di Jakarta. (Kartiman. wawancara, 8 mei 2013).

Industrialisasi bukanlah sekedar masalah menghasilkan barang, tetapi bagaimana menghasilkan barang yang selanjutnya dapat dijual. Untuk menghasilkan barang, diperlukan kemampuan teknologi dan modal, dan untuk bisa menjual barang yang dihasilkan, barang yang bersangkutan harus dapat memenuhi keinginan dan selera konsumen, sekaligus cukup murah dan lebih tepatnya terjangkau daya beli konsumen. Kejayaan ini serasa hilang ketika pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) kejayaan batik hampir mereda karena bersamaan dengan ditaklukanya Belanda oleh Jepang pada perang Asia Timur Raya pada tahun 1942 (Fitinline. 2013 dalam website).

Warga Ciamis pada umunya kesulitan untuk mendapatkan kain untuk kebutuhan sandang, sehari hari bahkan karung goni bekas kopi dan cengkih dipakai dan dirajut menjadi pakaian Pada zaman ini sulit sekali mendapatkan bahan baku kain mori. Mereka hanya menggunakan bahan baku yang seadanya dimana hanya menggunakan kain dengan lebar 90 sentimeter yang sangat tidak cocok untuk dibuat batik. Jenis batik ini kemudian disebut dengan batik ‘becak’. Imbasnya sangat terasa pada para pengrajin batik yang tergabung di Koperasi Rukun Batik Ciamis. Lebih parahnya lagi industri batik Ciamisan berhenti beroprasi sementara karena wajib militer dan kerja paksa (romusha).(Pardi. wawancara, 9 mei 2013). (AS)