Sejarah Lahirnya Koperasi Rukun Batik Ciamis (1)

by -

Sejarah Lahirnya Kopeasi Rukun Batik Ciamis

Oleh :Rd. Heri Haryana, S.Pd

Pada awal abad ke-20 mayarakat Ciamis sudah mengenal batik produksi sejumlah pengrajin batik (industri rumahan).Keberadaan para pengrajin batik itu dipelopori oleh keluarga H. Nawawi yang tinggal di Sindangrasa. Istrinya adalah orang Jawa asal Yogyakarta yang memiliki kepandaian membatik. Setelah suami istri itu memiliki anak, kepandaian membatik istrinya diwariskan kepada anak-anak mereka, antara lain kepada Marhasim (Kartiaman, wawancara, 8 Mei 2013).

Keberadaan para pengrajin batik waktu itu dimungkinkan oleh kondisi yang mendorong. Kondisi dimaksud adalah, pertama, di Pulau Jawa kain mori sebagai bahan batik mudah diperoleh, karena kuantitas bahan batik itu cukup melimpah. Kedua, banyaknya permintaan akan kain batik, sejalan dengan perkembangan kehidupan ekonomi. Ketiga, kondisi atau faktor pertama dan kedua itu mendorong munculnya para pengrajin batik di Pulau Jawa, termasuk di Ciamis. Keempat, terjadinya inovasi dalam perlatan membatik, yaitu adanya canting untuk membatik dan cap motif batik. Peralatan yang disebut terakhir tercipta sejalan dengan masuknya pewarna tekstil dari Cina (Arman, 2006: 29).

Kondisi tersebut, terutama meningkatnya jumlah pengrajin batik di daerah Ciamis, mendorong tokoh batik Ciamis yaitu H. Abdul Majid, putera Murhasim atau cucu H. Nawawi dan Suganda untuk menghimpun para pengrajin batik Imbanagara, Ciamis dalam perkumpulan yang disebut Serikat Pembatik Imbangara, disingkat SPIB. Pembentukan SPIB itu terjadi masih pada awal abad ke-20.

Setelah H. Abdul Majid mendirikan SPIB dan mengetahui bahwa beberapa daerah lain juga menghasilkan batik, ia memahami bahwa batik produksi Ciamis memiliki prospek yang baik untuk lebih dikembangkan. Hal itu mendorong timbulnya gagasan para tokoh batik Ciamis, yaitu H. Abdul Majid, Suganda, Sasmita dan H Tamim, bahwa produksi batik di Ciamis tidak terus-menerus merupakan industri rumahan, melainkan produksi batik itu perlu dilakukan oleh suatu lembagaformal dalam bentuk indistri.

Alasan dan tujuan pembentukan industri batik di Ciamis secara mendasar menyangkut dua hal. Pertama, agar para pengrajin batik memiliki wadah dalam berkarya di bidang batik. Kedua, untuk menciptakan ciri khas batik produk Ciamis, yang memiliki daya saing dengan batik produk daerah lain. Dengan kata lain, didirikannya industri batik itu bertujuan untuk menjadikan Ciamis sebagai produsen batik yang diakui dan dikenal oleh masyarakat secara luas.

H. Abdul Majid dan kawan-kawan merealisasikan gagasan tersebut pada tahun 1939, dengan mendirikan lembaga berbentuk koperasi bernama Koperasi Rukun Batik Ciamis. Oleh karena para tokoh batik dan para pengrajin batik tinggal di daerah Sindangsari Kecamatan Ciamis, maka lokasi yang dipilih sebagai tempat koperasi dan kegiatan indistri batik adalah suatu tempat yang dianggap cukup strategis. Dalam kondisi sekarang gedung koperasi tersebut beralamat di Jalan Sudirman No 249 Sindangsari Ciamis.

Pada tahap awal, tenaga kerja adalah para pengrajin batik industri rumahan dengan jumlah 421 perajin. Untuk kepentingan produksi batik, tenaga kerja itu kemudian diklasifikasikan berdasarkan peranannya, yaitu Tukang Tulis, Tukang Cap, Mandor Godog,dan Buruh Harian Lepas(Kartiaman, wawancara, 8 Mei 2013 dan Eman, wawancara, 30 Mei 2013).

Telah disebutkan bahwa berdirinya koperasi rukun batik di Ciamis adalah gagasan H. Abdul Majid dan kawan-kawan. Oleh karena itu pada tahap awal koperasi dipimpin oleh para penggagasnya, dengan H. Abdul Majid sebagai ketua. Selain mengatur kegiatan industri batik, mereka juga memikirkan inovasi baru untuk mengembangkan unsur-unsur industri batik, tentu berikut produksinya.

Waktu itu pemerintah Hindia Belanda memberlakukan aturan, bahwa pembentukan organisasi atau lembaga harus mendapat pengakuan dan izin dari pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena pimpinan Koperasi Rukun Batik Ciamis pun berusaha untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda secara formal, melalui permohonan agar Koperasi Rukun Batik Ciamis mendapat perlindungan secara hukum. Permohonan itu diterima oleh pemerintah Hindia Belanda dengan keluarnya akte pendirian Koperasi Rukun Batik Ciamis (Oprichtings Acte Batik Cooperatie) tanggal 17 April 1939. Dengan diperolehnya akte tersebut, berarti Koperasi Rukun Batik Ciamis memiliki kekuatan sebagai badan hukum.(AS)